
Bagaikan jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah kehidupan yang aku alami. Jalan hidup nampak suram. Ku lewati jalan terjal dan berliku. Hatiku yang sakit bagai di sayat sembilu. Dan semua itu tak kan bisa di sembuhkan dalam hitungan waktu. Roda kehidupan tak sesuai harapan, warna dunia terlihat kelam, penuh mengering tanpa asa, kenikmatan hanya impian merajut layer. Menentang badai, gelapnya dunia gelapnya hati, akal sehat tak berpesan Lumpur dosa menjadi jalan. Semua itu membuat aku terperosok dalam jurang kemaksiatan. Dan membuat aku jauh dari sang maha pencipta ALLAH SWT.
“Annisa….!!! Sudah ada adzan subuh ayo bangun, jama’ah sholat subuh sama ayah”
suara ayah memangilku di balik pintu kamar, namun aku tak begitu menghiraukannya. Ku anggap angin lewat masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
“Ya ayah bentar dulu.masih males”
“melakukan sholat kok males, mau jadi apa kamu ??”.
Bentak ayah kepada ku, namun tetap tak aku hiraukan. Aku masih saja bersikap acuh tak acuh kepada ayah
Ku telan seribu penderitaan kehidupan ini. Namun tiada sejuta obat yang bisa membalut perihnya luka ku. Kehidupan ku berubah 180 derajat. Semua itu bermula saat kepergian ibu kembali ke rahmatullah. Aku begitu berat melepas kepergian ibu kepergian ibu. Aku tak bisa kehilangan ibu secepat itu. Ibu yang selalu menyanagi ku. Ibu yang selalu memperhatikan ku. Kini telah tiada, meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Kepergian ibu memberi luka yang amat dalam bagi ku. Aku yang di kenal dengan sosok taat beribadah. Kini aku jauh meninggalkan Allah. Bahkan sholat lima waktu pun aku sering tinggalkan. Aku yang suka pergi mengaji, aktif hadior di pengajian, kini berubah tak mengenal kegiatan-kegiatan religi. Kini aku lbih suka keluar malam, dugem, dan malah menyentuh barang-barang haram ( narkoba). Semua itu terjadi saat hati ku kosong. Merasa tak punya siapa-siapa lagi. Setelah kepergian ibu setelah selang beberapa hari. Pacarku menduakan aku dan selingkuh dengan sahabat ku sendiri. Betapa hancur dan lukanya hati ku. Cowok yang ku krnal dulu penuh perhatian kini menancapkan duri dalam hati ku. Keadaan itu membuat aku drop dan salah jalan.
“ayah…. Aku mau keluar sama temem-temen, mungkin pulangnya agak malam. Sekitar jam dua belasan”
Pamit ku ketus sama ayah.
“apa!!!! Kamu mau kemana Annisa??? Mau jadi apa kamu??? Anak gadis pulang tengah malam”.
“Peduli apa ayah sama aku?? Toh ayah hanya peduli sama pekerjaan ayah sendiri”.
“Annisa… ayah sayang banget sama kamu. Kamu anak ayah satu-satunya. Ayah bekerja siang malam hanya untuk kamu. Semuanya buat kebahagiaanmu Annisa”.
“Cukup ayah!!! Cukup!! Simpan saja sayang ayah. Aku ga butuh semua itu, kalau ayah sayang sama aku, waktu ibu menjelang wafatnya ayah di mana?? Ayah ga ada kan?? Ayah sibuk sama pekerjaan ayah sendiri”.
Air mataku jatuh tak tertahan. Merasakan sakit hati yang tiada terkira. Merasakan hidup betapa pahitnya, walau harta melimpah ruah, tak kan habis tujuh turunan, semua itu tak membuatku bahagia sedikit pun. Aku hanya ingin kasih sayang. Tapi kini ibu telah tiada. Orang yang menyayangiku tak kenal lelah dan mengenal waktu. Tapi kini telah pergi untuk selamanya, tak ada kasih sayang bisa aku rasakan. Karena ayah sibuk dengan pekerjaanya sendiri.
“Annisa…maafkan ayah!!!!”.
“Nggak ada gunanya lagi ayah minta maaf. Toh ibu juga telah tiada”.
“Annisa…ayah janji akan menyayangi mu. Seperi ibu mu memberi kasih sayangnya kepadamu. Ayah janji akan sering menemani mu di rumah”.
“Sudah terlambat ayah!!!”.
Aku menjawab ayah dengan penuh kemarahan. Dan aku pun berlalu pergi meningalkan ayah, malam itu pun aku pergi ke sebuah diskotik untuk menenangkan fikiran aku pun mabuk-mabuk kan. Saat itu aku sungguh tak tahu apa yang aku harus lakukan. Aku berteman sama anak-anak berandalan. Menghisap ganja bukan hal yang aneh lagi bagi ku. Narkoba dan minum-minuman keras sudah menjadi makanan dan teman setia ku. Namun ayah tak tahu atas keberutalan ku. Kalau aku pecandu narkoba. Pas tepat pukul oo.oo aku pulang.
“Bik…bibik…bukakan pintu”.
“Iya non tungu bentar”.
Bibik pun berjalan menuju pintu, namun sepontan ayah melarangnya.
“Nggak usah bik…biar aku yang membukanya”.
Ayah pun segera menghampiri ku, dan membukakan pintu untuk ku.
“Hallo…ayah…tumben ayah di rumah”.
Aku dalam keadaan setengah tidak sadarkan diri menyapa ayah dalam keadaan mabuk.
“Plaaak…plaaak…”.
Ayah menamparku di depan pintu. Namun aku pun tak memperdulikan ayah. Seumur hidup ku baru kali ini ayah menampar ku dan sangat-sangat marah pada ku.
“Ayah…ayo tampar terus ayah…tampar aku. Sampai ayah puas. Rasa sakit tamparan ayah tak seberapa dibanding luka hati ku”.
“Maafkan ayah annisa....ayah melakukan semua ini. Karena ayah sangat sayang sama kamu. Hati ayah sakit annisa…melihat kamu jadi begini. Ayah nggak tahu harus gimana lagi”.
“Apa!!!Hati ayah sakit!!!. Apakah ayah merasakan gimana sakitnya hati annisa. Hidup tanpa kasih sayang. Yang ada di otak ayah hanya uang…uang…dan uang.
Aku pun berlalu pergi meninggalkan ayah. Dan berlari menuju kamar ku. Bibik yang berada di ruang tengah hanya bengong melihat pertengkaran sengit antara aku dan ayah.
Syahdu malam mengisii sepi. Terpana aku menanti. Menanti sebuah kasih yang bersih dan sayang yang tulus. Ibu…aku merindukanya. Sosok yang sempurna di mataku, kini telah tiada. Di saat air mata ini menetes, ada luka di setiap tetesan, di saat hati ini menjerit, ada sakit di setiap jeritanya. Di saat kaki ini melangkah, ada duri yang menghambat langkahnya. Aku yang jauh dari sang pencipta, aku merasa kehampaan tiada ujungnya, aku merasa sendiri, sampai aku menjadi pecandu narkoba. Kini ayah sudah berubah. Ayah bukan ayah yang dulu. Ayah yang jarang di rumah, ayah tak pernah memperdulikan aku. Ayah yang tak mmperhatikan aku. Dan kini ayah benar-benar menepati janjinya. Aya memberikan kasih sayang nya. Walau kasih sayang itu tak sehangat kasih sayang ibu.
“tok…tok…tok… annisa… ayo bangun sayang. Sholat subuh sama ayah.
“ayah…”
Aku hanya bisa menyebut nama ayah dengan keadaan lemas, sedangkan aku sudah tak kuat menahan rasa sakit. Akibat dari narkoba yang telah merasuk ke tubuh ku. Ayah pun mencemaskan aku. Karena tiada jawaban dari aku. Akhirnya ayah masuk ke kamar ku. Dan melihat ku di pojok ruang kamar ku. Aku sudah dalam keadaan lemas dan tak berdaya, keringat bercucuran dan badan menggigil. Akhirnya ayah tau kalau aku adalah seorang pecandu narkoba.
“Annisa!!! Astaghfirullah haladzim…. Kamu krnapa sayang???
“ Sakit ayah…!!!”
“Annisa apa yang terjadi sama kamu..??”
“ Ma…ma…afkan…a…a…a…ku…ayah.”
Ucap ku terbata-bata, dalam keadaan tiada berdaya.
“Ya Allah…anakku…mungkin ini semua adalah salah ayah yang tak pernah memperdulikan mu. Mungkin semua ini teguran Allah pada ayah, agar ayah selalu memperhatikan mu. Dan jadi ayah yang baik untuk mu”.
“Ayah…sakit ayah…sakiiit..annisa gak kuat ayah”.
“Iya anakku…kita kan pergi berobat. Semoga Allah memberikan kesembuhan untukmu.
Sambil membopongku, tanpa banyak kata, ayah membawaku berobat ke panti rehabilitas. Mungkin semua itu lebih baik untuk ku. Apapun di lakukan ayah untuk kesembuhan ku. Tak perduli ayah harus mengeluarkan biaya berapa, ayah sunggguh sangat terpukul melihat keadaan ku, dan ayah sungguh sangata menyesal dengan semua ini. Ayah memohon ampun pada sang kuasa. Mungkin ayah telah gagal jadi imam bagi keluarganya.
Setibanya di panti rehabilitas. Ternyata ada salah satu teman dugemku, dan sama-sama pecandu narkoba. Ternyata sudah tak tertolong lagi nyawanya, melihat semua itu ayah semakin cemas dengan keadaanku. Dalam hati ayah berdo’a.
“Ya Allah ya robbi… sembuhkan dia. Dan maafkan aku ya Allah…aku gagal menjadi ayah yang baik untuknya”.
“Ayah…aku ingin sembuh!!!”
Suaraku tertahan di balik jeruji panti rehabilitas.
“Iya anakku…kamu akan sembuh..maafkan ayah bila harus menempatkan mu di sini. Semua ayah lakukan demi kebaikan mu.
Dengan gontai ayah ayah meniggalkan panti rehabilitas. Hati ayah bagai tertusuk belati tajam, dan menahan rasa sakit yang luar biasa. Ayah sungguh-sungguh sangat menyesal dengan semua ini.
Waktu berdetak dalam hamparan tak bersuara, semakin berlalu detik demi detik, saat pertama aku dip anti rehabilitas waktu berkata taka pa, hanya hati tak rla, yakin dalam kata kan mengantar pada sebuah mahligai, walau jauh waktu menjawab, sabar akan membuka semua. Satu bulan telah berlalu aku menjalani hidup di panti rehabilitas, hari-hari telah aku lalui tanpa ayah dan tanpa siapapun, semakin hari keadaanku semakin membaik. Dan ayah pun sangat bersyukur atas semua itu.
Jam dinding menunjukkan pukul 03.45 aku bangun dari tidurku karena mendengar suara tanpa wujud. Entah suara apa dan suara siapa… tapi yang masih melekat di hatiku. Dan tak bisa aku lupa adalah kata-kata terakhirnya.” LA TAHZAN INALLAHAA MA’ANA” jangan bersedih annisa sesungguhnya Allah bersama kita.
Aku tersentak kaget mendengar semua itu, bukankah itu ayat Al- Qur’an dalam surat attaubah. Aku tersadar akan semua dosa-dosaku, aku yang telah jauh dari Allah, dan telah lama meninggalkannya, kini seakan aku dapat hidayahnya, dan dapat magfiroh darinya, aku menangis sejadi-jadinya, aku sadar. . . .aku telah berbuat salah. Aku merasa kecil di hadapan. Dan aku sungguh tak pantas jadi hambanya. Ya Allah yarobbi. . . . maafkan aku.
Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang, kudengar adzan subuh, aku cermati llafalnya. Sungguh indah asmanya telah terangkai pada kalimat adzan. Bagaikan tubuh ku terguyur air telah kausar. Air mataku jatuh tak tertahan, betapa murkanya Allah padaku melihat aku seperti ini.
Ku langkah kaki. Langkah demi langkah tak terhitung jumlahnya. Tanpa sadar kaki ku mengantarkan ku ke tempat wudhu.
“Annisa . . .kamu mau kemana????’’
Seorang suster panti rehabilitas menghentikan langkah ku
“Susterr tolong Bantu aku . . . aki ingin sholat subuh”’
“Alhamdullilah . . .annisa . . kamu . . !!!!
Suster itu bersyukur atas perubahan ku, dan suster itu sempat bengong melihatku, akhirnya suster itu mengantarkan ku ke mushola untuk menunaikkan sholat subuh.. dalam sujud ku, aku memohon ampunan padanya. Atas semua dosa-dosa yang telah lakukan. Dan memohon petunjuknya, memohon hidayahnya. Dan memohon magfirohnya. Sejenak aku teringat sya’ir yang biasanya di lantunkan abu nawas, air semakin tak bisa mataku semakin tak bisa bendung lagi.
“ILLAHILAS TULIL FIRDAUSI AHLA
WALAL AQWA ALA NARIL JAMIHI”
“FAHABLI TAUBATAU WAGHFIR DZUNUBI
FAINKAGHO FIRUDZANBIL ADZIMI”
“Oh tuhanaku bukanlah ahli surga juga tak mampu menahan siksa neraka”
“ Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu ya illahi terima lah amal tobat ku”
Saat surya tenggelam kelam terlihat warna merah ke emasan terhambar indah di cakrawala, agung nian lukisan mu tuhan dibatas senja,desir angina menerpa pepohonan, bertasbih pada sang pencipta, gema satwa malam mengalunkan tahmidnya, gemercik air di sungai bersenandung dzikir pada tuahn, ya maulana robbana . . tiada tuhan, hanya Allah yang maha satu, maha pencipta maha segalanya, ku bersimpuh sujud di haribaan mu. Aku menyadari betapa kecilnya aku di hadapannya. Tapi kenapa aku selalu bermaksiat kepadanya. Astagfierullah haladzim . . .hatiku beristigfar berkali-kali
Jam dinding menunjukkan pukul 21.00. aku pun bergegas tidur. Setelah menunaikan sholat isya’. Namun entah mengapa mataku sulit trpejam. Ada yang aku rindukan, entah siapa yang aku rindukan. Seakan sang pencipta merindukan kekasihnya, ibu jelas aku sangat merindukannya, mantan cowokku aku sudah melupakannya. Terus siapa??? Aku pun tak tahu, hatiku bertanya, ku mencari jawab atas tanyaku, namun tak sedikitpun aku mendapat jawabannya. Bahasa gelisah dengan curahan rasa paling resah, dalam enerjemahkan pilihan hidup berharapan, menjadi diri sendiri yang bangkit dari kenyataan pahit, pasa setiap kesempatan yang sempit dihadapan tantangan, siapakah mampu menampung keadaan apapun dari kesia-siaan. Buat merenungkan segala aku tak bisa tidur dengan nyenyak, tepat pada pukul 01.00 aku terbangun. Perasaan resah dan gelisah masih menyelimuti ku. Akupun ambil air wudhu untuk melakukan sholat malam. Rasanya lama aku tak pernah mengadu pada sang halig pada sujud malam yang lama aku tinggalkan.
Kala rasa aku terlena membentang kebimbangan dan resah membasah, membayangi semua dengan semua angan, satu tempat aku tuju, dimana engkau tiada terlihat, hanya satu yang aku tau tiada dan tak aku menduanya, hanya satu tempat terlabuh, kepadamu ya Allah . . .aku tempatkan semua, semua rasa yang tercipta di hati ini, ku kiirimkan lewat untaian mutiara-mutiara kalam tasbihmu, dan rasa kepasrahan diriku kepadamu yang satu. Dalam ksujud aku memohon ampunanmu. Aku ingat akan dosa-dosaku aku merasa kecil di hadapanya. Aku hanya makhluk dhaif, penuh khilaf dan salah. Dalam sujud aku bermunajah.
“ Ampunilah aku ya . . . Allah . . .yang selalu bermaksiat kepadamu, tunjukkanlah jalan mu, jalan yang kau ridhoi dan yang kau rahmati, jika sesuatu itu menurut mu baik untukku., maka dekatkan lah pada ku, dan jika sesuatu itu buruk menurutmu, maka jauhkan lah dari segala yang menyesatku dan tempatkan lah ibu ku di surga firdaus mu, jauhkan ibu ku dari siksa api neraka mu, amin . . .amin . . amin
Aku pandang mentari yang bersinar cerah yang terbit dari timur dan terbenam dari barat, sebingkai hati yang terselubung marah, semangat pupus hilang terkubur, aku menghadap luas cakrawala, terbentang angna ku terbuai impiannya. Tersadar sejenak di dada. Begitulah perjalann menerpa iman, dan tak jarang kabut mendung hujan deras menyapa, tapi hanya padamu aku bersujud ya Allah, menengadahkan tangan, di setiap malam tahajud curahkan segala urusannya, ya Allah tolonglah aku, berilah aku kekuatan menghadapi cobaan, deraian air mata jatuh tak tertahan.
Kini terjawab sudah apa yang selalu membuat ku resah dan gelisah berkepanjangan. Ternyata kini aku merindukan kekasih sejati, dialah Allah SWT, yang aku rindukan, kini telah ku temukan cinta ku dalam sujud tahajud ku, Allah hurobby . . . dialah cintaku, tiada yang bisa menyamai kasihnya, takkan pernah padam cintanya, dan tak kan pernah hilang sayangnya. Dan kini aku baru mengerti apa yang pernah diktakan ibu.
“ Anissa sesungguhnya Allah sangatlah dekat sama kita. Bahkan lebih dekat dari urat nadi kita, selama kita tidak pernah jauh dari Allah, Allah takkan jauh dari kita”
Kini aku mengerti apa yang dikatakan sama ibu dulu. Allah kaulah cinta sejatiku, betapa indah dunia ini bila kita bisa mencintai semata-mata karenanya, dan betapa damainya bila kita bisa mengigatnya di kala suka Maupin duka. Aku pun belajar melupakan ibu, mengikhlaskan kepergian ibu, aku sadar semua pasti kembali padanya. Akupun juga telah melupakan mantan cowokku, mungkin Allah akan memberikan pengganti lebih baik dari dia, kini saatnya aku mulai hidup baru dengan ayah, menjalani hidup penuh cinta dan kasihnya, dan selalu mengharapkan ridhonya. Allah Huakbar . . dialah sejatiku dan cinta sejati seluruh umat islam manusia.
Gapai hidup lebih berarti dengan membuat sejuta prestasi dan selalu dekat dengan illahi.
SAY NO TO DRUNGS


0 komentar:
Posting Komentar