ISTIGHFAR CINTA


“ Kenapa engkau masih ingkar akan cintamu, padahal kejujuran air mata, sakit-sakitan adalah menjadi saksi atas cintamu “.( Syekh Muhammmad Al- Bashir, burdah ).
Kemilau cahaya bulan serta bintang- bintang menebar buih-buih kedamaian. Aku mencoba langkahkan kaki, menyusuri malam yang dingin, ku basuh seiras wajah dengan air bening nan suci. Harapkan menjadi insan yang selalu kembali kepada sang Illahi Robby. Uraian kalimat-kalimat suci mengalun di kedua bibir. Derai air mata di setiap sujud, tak pernah putus di hembusan nafas tubuh ku. Hanya harapkan ridlo di setiap Istighfar Cinta yang terbentang. Degup jantung dan hati tak dapat terpisah. Ibarat cinta dengan kehidupan manusia. Menyusup sejuk dalam relung kalbu setiap insan. Tiada manusia hidup tanpa cinta. Karena cinta sejak zaman Adam dan Hawa sudah terbenam di hati manusia.
“ Wah…udah jam 5 nich….” Pikirku dalam hati . hari jumat memang jadwal pelajarannya olahraga, yang di adakan diluar jam efektif, jadi harus berangkat pagi-pagi, selang beberapa menit samapi juga aku di sekolah. Di lapngan sudah ada Pak Dwi yang menunggu dan sepuluh anak yang baru datang berjajar rapi .Seperti biasa yang terakhir datang adalah Eko Widodo dengan pasangan sejatinya Abdul Aziz. Eh…ternyata masih juga ada yang lebih terakhir, siapa lagi kalau bukan Naim sama Imam, maklumlah bengawannya lagi banjir.
Setelah jam pelajaran olahraga selesai, seperti biasa , kami cangkrukan di depan kelas, sambil menunggu Pak Mukhid mengjar. Namun ,ketika diajar Pak Mukhid tak jarang dari kami yang malah main sendiri, bahkan sampai tertidur. Tidak cuma pelajaran Pak Mukhid saja yang sama anak-anak di tinggal tidur. Pelajarannya Pak Gunadi dan Pak Tolik pun tak ketinngalan, bahkan pelajaran matematika yang terkenal sulit , masih sempat- sempatnya Laroib, Zaeni dan Eko CS tertidur. Setiap ada guru yang bertanya kenapa kok tidur , pasti dijawab “ Annaumu Ibadatun “, gaya ala santri keluar dech kalau sudah berurusan dengan yang namanya tidur ( he…he…he…) bukan karena kehabisan dalil atau kekurangan dalil, tapi mungkin yang baru di ajarkan Syeh Dempol, Gus Mufid dan Mbah Naim baru satu dalil saja, jadi yang di ingat-ingat ya cuma “ Annaumu Ibadatun”.
Hari- hari berputar, seiring waktu yang terus berlalu, andai hidup adalah puisi, niscaya takkan cukup terukir dalam lembaran-lembaran putih, rangkaian kepedihan menjelma di antara pekat malam , seiring berlabuhnya waktu di semenanjung kerinduan kepada sang pencipta . Rindu yang membahana dan membakar jiwa mimpi- mimpi membasahi sekujur tubuh yang terhina dan terluka, yang tersakiti dan tak ingin mati. Meski malam ini mengoyak dan hempaskan tubuhku. Hingga kutak mau ada cinta yang semu . seberkas cahaya ayat-ayat cinta menggema, menjdi syifa’ qolbu dan penerang jiwa.
Ketika kuberada pada sof-sof yang lurus , pasrahkan segala diri ini , bersimpuh memohon ampunan tak bisa kuhapus sedihku tak mampu kutepis air mata ku. Ketika kuharus kehilangan orang- orang yang ku cinta. Tak ada sesal yang dalam meski hamparan luka- luka tawar terbenam dalam diriku . sesungguhnya semua dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dalam hati hany bisa ku pasrahkan jawaban atas segala doa ku.
Sakitnya rasa kehilangan bagai bunyi dawai lokananta yang menyimpan perih dibalik suaranya yang merdu . ingin ku membelai kuntuman bunga impian , sebagai pengharum jiwa, kusanjungkan istighfar ditiap gerak langkah tubuhku. Kini warna pelangiku telah berlalau, pudar bersama uraian awan putih yang mengarah diangkasa biru.
Dahulu awalku mengenalnya, terasa beribu keindahan bertaburan disudut pandangku. Memberikan kesejukan dan kedamaian. Namun, kini berbalik membenamkan aku dalam kehancuran, meski senantiasa kusanjungkan namanya ditiap keluh lukaku.
“Eh…..kok bengong aja ?” aku mau Tanya sama kamu, kenapa kok dia kelihatan benci banget sama kamu ?” Tanya Andra.
“Ya…wajarlah Ndra, kan udah dapat yang lebih dari diriku”.
“Nggak punya hati banget za, padahal kamu udah berjuang demi dia, eh…sekarang malah bermesraan dengan cowowk lain”.
“he…he…he…nggak usah kecut gitu mukanya, kita berdoa saja semoga didapatkan kebahagiaan”.
Begitulah cinta yang harus kulenyapkan dari hatiku dan harus aku tukar dengan cinta sejati kepada-Nya. Dengan segenap keinsyafan kunyalakan taubat diwajahku, yang tersungkur diatas sajadah mengubur dosa-dosa yang lebih dahulu terlampaui dengan nafasku duatas gunung-gunung menjadi saksi bisu.
Mentari berbinar terang , memancarkan kemilau cahaya dari dirinnya sendiri dan cinta ibarat matahari. Betapa tinggi imajinasi maknai arti cinta yang terpapar , manusia tak akan temukan apa hakikat arti cinta , karena cinta itu sendirilah yang akan menerangkan arti cinta .
’’ Met pagi Zaky….’’sapa Ulmi , cewek paling crewet di IPS-4.
’’ Pagi juga plet (panggilan gaul ulmi)’’
’’´Kok udah masuk sekolah … ?’’
“ Boring di rumah terus …. Nggak ngumpul sama temen-temen rasanya kangen juga”.
Hari ini hari pertamaku masuk sekolah, karena empat hari aku di rumah sakit nungguin bapak hingga nafas terakhirnya mambelai sejuk dikulitku.
Seperti biasa, tiap waktu istirahat dan jam kosong kami duduk-duduk dipintu kelas, sampai wali kelas kami menegur supaya masuk ke kelas.
“ Sekarang pelajaranya apa? Dan waktunya siapa?” Tanya bu Umi.
“ Kesenian bu, jamnya pak Achmad”, jawab kami serentak.
Selang beberapa menit kemudian terlihat sosok perempuan lewat didepan kami.
“ Eh kemarin dia ke rumah kamu nggak, waktu bapak kamu meninggal?” bisik lara padaku.
“ Nggak tuh…emangnya kenapa?”
“ Iiiihhh jahat banget za….nggak punya perasaan banget !!!”
Kok jahat….? Kan aku bukan siapa-saiapanya dia”.
“ Nggak jaht gimana ….lha wong kamu dapat musibah kok dia nggak mau ke rumah kamu, apa dia nggak ingta saat – saat indah yang dilalui bersama kamu …cie….”
“ Udah ah jadi males aku , kal;u bahas begituan lagi, aku udah cukup menerima semua ini “.
Jalan rerumputan yang aku lewati ikut menangis menahan duka. Dengan banyak dluka akan membuat hidup bijak sana dalam melangkah. Menghisap hamparan hampa diantara taburan bunga melati yang berjajar rapi. Sesampainya di rumah kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
“ Wah….cuapek banget habis les fullday”, aku biasa sendiri pada hari-hariku.
“ Sekian lama aku menunggu kedatangan mu….” Derit handphone disebelah tubuhku. Siapa lagi kalau bukan Alya bangunkan ku untuk sholat tahajud.
Pagi yang cerah ….!!! Senyum terbinar-binar kubingkai dalam wajahku, menatap hari dengan penuh harapan tuk jadi bintang bagi orang-orang yang aku cintai.
“ Cie…semangat banget nich, semalem habis dapt apa?”.
“ Zaharus semangat lho….kalau nggak semangat, mana mungkin kakak bisa kjadi bintang buat kalian…he…he…”.
“ Iza…percaya…semoga apa yang kakak cita-citakan berhasil…”.
“ Za udah aku berangkat dulu zaa….Assalamualaikum”.
“ Waalaikumsalam ….hati-hati di jalan”.
Sekitar 15 menit akhirnya sampai di sekolah,. Sekolah yang terkenal maju (alias mepet dalan) yang diatas gerbang tertulis “ MADRASAH ALIYAH NEGERI RENGEL , jln . Raya beron 728 Rengel”.
“ Assalamualaikum ….” Terdengar suara dari belakangku.
“ Wa’alaikumsalam…eh Alya “.
“ Tumban beranmgkat pagi?”
“ Gimana kabar kamu…udah lam nggak pernah ngobrol “.
“ Kamu sendiri gimana ? “.
“ Aku Alhamdulillah baik…..eh…kangen za sama aku…?”.
“ Iiiiihhhhh….ngapai kangen sama orang yang nggak pernah mandi ….he..he..he…”.ledek Alya ke aku.
“ Kirain kangen sama aku …berarti aku dong yang GR”.
“ Tapi… emang bener kok kalau aku kangen bangetb sama kamu”.
Begitulah setiap aku bertemu dengan Alya, pasti kau diejek nggak pernah mandi. Emang dasarnya aku pernah mandi kok….he…he…he…
Hari ini kelas ramia banget karena ada jam kosong . bukanya malah belajar , tapi malah sibuk-sibuk sendiri . ya…begitulah XII IPS 4 yang terdiri dari bermacam-macam masyarakat multikultural .Ada Laroib CS yang enak tidur, Ulmi CS yang enak-enak ngumpi di depan kelas. Syeh Poleng, Kyai Mufid dan Mbah Naim yang asyik debat syari’at. Ada juga kak Ngartika CS yang sregep belajar. Ditambah lagi genk Unsa CS yang mondar-mandir ( caper) disemua tempat.
Kelas XII IPS 4 terletak di utara lapangan voly, sebelah kiri ruangb OSIS. Mempunyai dua pintu yang salah satunya hamper copot. Dilantai depan bangku kami terdapat salah satu keramik yang pecah, cat-cat yang lusuh turut menghiasi kelas kami berwarna kuning kehitam-hitaman , bukan karena dulunya dicat kuning dicampur hitam , tapi karena sudah lama tidak dicat, ditambah cap sepatu dari berbagai merk yangn nempel didinding . Apabila waktu hujan tiba , kelas kami menjadi gelap karena hanya ada satu lampu yang bisa menyala serta dua kipas angina yang salah satunya tidak lagi dapat berputar . Layaknya sikap sempurna waktu upacara . didinding belakang terdapat motto IPS 4 yang tertuliskan “ Khoirunnas anfaukum linnas” yang diukir dengan kaligrafi arab.
Manakal kabut telah selimuti hamparan mimpiku, diantara jari- jemari yang meluas terbaring lunglai untuk mengukir elegi kehidupan , aa seprcik harapan dalam tahjudku. Mewarnai cinta yang telah lam terpendam , dan cinta menanti diatas segala ketulusan . Akhirnya dapat kuungkap cinta dibalik senja-senja waktu. Yang berlari terengah-engah aku sampai didepan Alya.
“ Aku mencintaimu Alya….” Ungkapku agak gemetar.
“ Zaky…tahukah engakau, jauh sebelum engkau ungkap rasa cintamu padaku, aku telah mencintaimu…namun aku memilih memendam rasa ini sendiri, karena kulihat engkau bahagia bersamanya. Sementara aku hanya bisa mengagumimu lewat diaryku”.
“ Kenapa kamu baru bilang sekarang Alya?”
“ Karena kau tak pernah bertanya Zaky….dan cintaku bukan untuk diumbar seperti mereka-mereka, kepedihan yang kurasa ternyata tak bisa hapuskan cintaku kepadamu”.
Sejenak waktu terdiam, helaian nafas panjang turut mengiringi.
“ Alya kalau dulu kita tak saling diam , mungkin kepedihan dan tetesan airmata , tak akan sedalam ini.
“ Sekarang aku taksendiri lagi…itu yang harus kamu tau, aku sudah belajar untuk mencintai orang lain, tapi aku juga tak bisa melepasmu, karena aku sudah terlalu lam menunggumu, maukah engkau menjadi shephiaku?”
“ Iza… aku mau Alya…”
Meski cinta yang kami dapatkan tak sesempurna cinta yang semestinya, karena kesempurnaan hanya ada dalam imajinasi manusia, yang ku tahu…cinta dalam hati, bukan dalam kata. Dengan tangan begitu gegabah menulis tentang cinta, namun setelah mencapai kata cinta , kata-kata itu pecah dalam desahan hati manusia.
Hanya dalam tahajud ku bisa bemunajat cinta dengan Alya dan melepas kerinduan yang membara , lewat bait-bait tetesan airmata bening dari pipi, lewat malam yang sunyi dan sepi . mengantar hati untuk menyatu dalam cinta dan bahtera illahi.
“ Alhammdulillahirobbil’ alamin….sebentar lagi aku harus meninggalakan bangku Aliyah”, gerutku dalam hati , ditambah iringan lagu ST 12 ,” Inilah saat terakhirku , melihat kamu….jatuh airmataku…..menagis pilu, hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih….sauj jam saja kutelah bisa cintai kamu dihatiku, namun bagiku melupakanmu….butuh waktuku seumur hidup…”
Membawa anganku melayang jauh, saat aku harus dihukum ngaji di depan sekolah, ssat aku harus sujud dilapangan , tak pernah memakai aqtribut lengkap bahkan kaos kaki pun tidak pernah memakai”, sing penting ganteng oke coy…..” tidak Cuma itu saja , yang lebih parah yaitu sering membuat kesel dan marah para Bapak Ibu Guruku.
Hinggga kurajut puisi istighfar cinta dalam saat terakhirku.
ISTIGHFAR CINTA
Lewat istighfar ini aku dendangkan melodi rasa seorang pecinta bersama luka-luka tawar yang membuat diri ini tak berdaya. Astaghfirullah….
Ampuni aku dengan beribukehilafanku
Ampuni aku yang telah melanggar aturan-aturan MU
Ampuni aku atas segala nafsu dan hasratku
Tak dapat bedakan lagi antara cinta dan luka menyatu
Menusuk rindu qalbu
Kini derita telah menyantapku diantara debu-debu kemunafikan ingkar janji yang terpaparkan.
Ingin ku gapai dan raih bintang meski aku tak dapat terbang. Ingin ku raih cinta dalam pekanya dunia yang kelam.

Kini saatnya waktu perpisahan, hanya bingkaian keuangan menyatu dalam hati, sebagai sajak untuk mereih mimpi. Meski aku bisa berucap, meski aku bisa menulis, tak sanggup aku torehkan unatian rasa yang telah tercipta. Mungkin suatu saat nanti kita kan mengerti, betapa berartinya sebuah kedamaian, batapa indahnya kebersamaan. Semua akan terasa bila kita sudah tak bersama. Dan untukmu sahabat, ukir dalam hidupmu narasi-narasi cinta . pandanglah ke depan karean itu dalah kenyataan . janganlah menoleh kebelakang karena itu kenangan. Dan semua itu hanya sepenggal kisah yang turut mewarnai pelangimu, mengertilah bahwa pelangi tak hanya satu warna. Begitu juga kehidupan tak selalu bahgia.
Pagi ini sepi, tak ada kicau burung yang menyapaku, hangatnya sinar mentari tersenyum dibalik rimbun dedaunan, dibalik seragam almamater MAN Rengel ini terdapat tubuh yang berlinang kerisauan . sudah setengah jam aku sampai di sekolah, tapi belum ada bel pelajaran yang berbunyi , dari kejauhan terlihat Alya berjalan menghampiriku.
“ Hai….met pagi, tumben udah berangkat ? biasanya jam 7 baru berangkat, sampai harus disetrap didepan kantor guru…”
He…he…he…maklu, kan saat terakhir, rajin dikit nggak apa-apa kan?”
“ Iza…eh…by the way aku boleh ngomong nggak sama kamu?”
“ boleh …emang mau ngomong apa lho?”
“ Jujur sebernya aku ingin disampingmu…memelukmu, tapi aku tak bisa, semua hanya sebatas anganku za”
“ Tapi …apakah kamu mau menungguku dan meraih cintaku seutuhnya…”
“ Aku akan selalu menunggumu Alya , meski kau takpernah dating menemuiku”.
Hanya iringan airmata Alya yang berlabuh dipipi menebar permata dimataku. Dengan menutup wajah Alya berlari dan berlalu dari sampingku. Aku mengerti kesedihan dalam hati Alya. Hanya sekejap mata aku bisa bersanding dangan Alya.
READ MORE - ISTIGHFAR CINTA

AKU SANGGUP MENANTIMU


Sebuah bangunan yang gagah menjulang tinggi ke angkasa menyapaku dangan ramah, aku pun membalasnya dengan senyuman kecil. Sungguh pagi ini adalah pagi yang begitu indah, kau tahu kenapa kawan?
Ini adalah pagi pertamaku, dimana aku melangkahkan kakiku ke dunia fantasiku, SMA. Lama ku pandangi gerbang calon sekolahku, disana tertera sebuah nama. Nama yang indah sekaligus menggetarkan jiwaku, “MADRASAH ALIYAH NEGERI RENGEL” itulah nama calon sekolah baruku. Tak sabar rasannya aku ingin menyandang gelar siswi ‘MAN Rengel’. Ah.. betapa indahnya, batinku.
Aku berlari lari kecil menuju ke ruang pendaftaran. Aku tak heran begitu ruang itu kosong tak berpenghuni, maklum kawan ini baru jam setengah tujuh, sementara pendaftaran baru akan dibuka pukul 8 nanti. Aku sengaja datang lebih awal, aku sendiri kurang tahu kenapa hatiku mendesakku agar berangkat pagi.
Kini aku duduk termangu di depan koridor kelas, dan tak henti hentinya aku tersenyum membayangkan betapa indahnya mengenakan seragam putih abu abu.
Dua jam telah berlalu bak semenit bagiku. Pendaftaran telah dibuka, aku pun sukses menjadi siswa pertama yang mendaftar,kemudian menyusul di belakangku seorang anak laki laki jangkung yang bertampang kusut, potongan rambutnya pun awut awutan, sungguh kau jauh dari sesosok pria idamanku Boy!, aku membatin.
Sejenak aku merasa ganjil melihatnya mengobrak abrik tasnya, ia celingkungan mencari cari sesuatu di dalam tasnya, ah melihat tampangnya saja sudah memprihatinkan ditambah lagi melihat adegan seperti ini, sungguh kau pria menyedihkan Boy, aku kembali membatin. Tak seberapa lama kemudian ia menatap ke arahku, bibirnya bergerak gerak melantunkan sebuah kalimat namun tak sedikitpun aku bisa mendengarnya, maklum kawan ia bicara tampa suara. Aku pun jengkel melihatnya, melihat aku kebingungan ia mengulang kata katanya tadi yang telah termakan angin,
“Boleh pinjam bolpoin?”, ia berbicara ke arahku solah olah yang ia ajak bicara adalah orang yang nun jauh di seberang sana, karena bola matanya sama sekali tak menatapku.
Aku enggan menjawabnya, langsung saja kusodorkan bolpoinku kepadanya, begitu selesai, ia serahkan bolpoin itu kepadaku tampa sepatah kata pun.
Lagi lagi aku kesal dibuatnya. Namun sejenak kemudian kekesalanku hilang digantikan rasa heran begitu melihatnya mengulang kejadian barusan, ia kembali mengobrak abrik tas bututnya, bahkan kali ini ia sampai menumpahkan segala sesuatu yang menghuni tasnya, sejenak tampa ku sadari ada decak kagum di hatiku melihat penghuni penghuni tas itu, ada sekitar 5 atau 6 buku setebal Quran di dalamnya, wah wah wah…buku saku pramuka yang setebal krupuk saja aku tak khatam khatam sejak SD. Belum selesai aku terkagum kagum memandang anak laki laki itu, ia kembali menatapku, kali ini dangan tatapan yang lebih dalam, aku pun balas menatapnya, DEG….. ada perasaan ganjil saat aku menatap bola matanya. Aku merasa gugup melihatnya ku alihkan saja pandanganku ke bawah seolah aku mencari uang receh yang terjatuh.
“Boleh pinjam uang?”
“boleh, tentu, berapa memang?”, tiba tiba saja kata kata itu meluncur dengan sendirinya dari bibir mungilku, di sisi lain aku juga merasa jengkel kepada mahluk satu ini, memeng aku siapanya? Pikirku. Tapi toh tetep saja aku merelakan 50.000ku kepaanya, bahkan aku sama sekali tak keberatan kalau uangku tak dikembalikan. Aku juga tak keberatan kalau dia tak mengucapkan terima kasih kepadaku, aku ikhlas se ilkhlas2nya.
Setelah kusodorkan selembar uang 50.000 kepadanya aku buru buru memalingkan wajahku dan bergegas pulang. Selewat 5 langkah aku mendengar teriakan laki laki tadi, aku merasa akulah yang ia panggil karena itu aku menoleh. Aku melihatnya tersenyum, tak kusangka lelaki yang berwajah kusut ini ternyata pemilik senyum termanis sedunia,
“hey aku Adly, dan kau?”, ia berucap, sungguh gaya berkenalan yang menyenangkan bagiku, sambil tersipu aku pun menjawab,
“aku Tsanny”, hanya itu yang bisa ku ucapkan karena sejurus kemudian aku telah berlari menjauh darinya, busssyet aku terjangkit syindrom gugup stadium akhir menghadapi mahluk yang satu ini.
***

Itulah kawan the story of my first love, sejak saat itu sampai sekarang ia telah setia menemani mimpi mimpi malamku, meski hanya bisa mengaguminya dari belakang namun aku cukup puas dengan hanya melihat tiap kali ia tersenyum ke arahku manakala aku melewati kelasnya, aku merasa ia memperlakukanku lebih special dari gadis gadis lain, aku tak tahu apakah hanya aku saja yang GR, atau memang itulah yang sebenarnya terjadi namun jujur aku sungguh bahagia dengan dugaanku yang seperti ini. Entah apa yang membuatku begitu menyukainya, dulu kejadiannya begitu singkat, namun emncintainya ternyata tak sesingkat yang ku kira. Buktinya sampai sekarang saat aku talah menginjak kelas tiga, rasa itu pun tak pernah berubah.
Terkadang aku bosan sekaligus jengkel tak karuan dengan perasaanku ini, kau tahu kenapa kawan? Gara2 aku mencintainya al hasil aku jadi jomblo sejati, bukannya aku tak laku2 sih, n bukannya sombong kawan, selama ini telah ada berlusin lusin lelaki yang mendaftarkan dirinya kepadaku( busssyeeet sombong banget booo’), toh semuanya tak bisa menggantikan posisi Adly di hatiku. Sungguh mahluk ini begitu merepotkanku, kalau saja ia tak pernah ku cintai pasti saat aku pergi ke reuni2 aku tak pernah sendirian, saat liburan sekolah pun pasti aku tak pernah menganggur di rumah, ah… semua gara2 Adly aku jomlo bertahun tahun.
3 Desember, pukul 13.30WIB. Aku bergegas pulang aku tak kuat lagi memandang diriku basah, kotor dan bau busuk telor yang menyengat, maklum kawan saat ini aku ber ulang tahun. Aku berlari secepat aku bisa,
“Tsanny….tunggu…”. ku dengar suara tak asing itu menyapaku, tak lain dan tak bukan itu adalah suara si pemilik senyum termanis sedunia, siapa lagi kalau bukan Adly. Pasti ia ingin mengucapkan ulang tahun kepadaku, hatiku pun berbunga bunga, namun kala aku mencium bau busuk di sekujur tubuhku, nyaliku ciut untuk dekat denganya, kenapa kau tak menemuiku tadi pagi sih Adly?saat aku masih cantik, aku menggerutu dalam hati.
“tsann, tunggu sebentar,” adly merogoh sesuatu di dalam tasnya, ah tak kusangka ia akan memberiku sesuatu, wah ini akan jadi ulang tahun terindah bagiku, aku membatin.
“Tsanny, ini 50.000mu yang dulu, maaf aku baru bisa mengembalikannya”, aku serasa tersengat lebah mendengarnya,
“tapi, Adly bukannya dulu aku sudah bilang tak usah lah kau kembalikan uang itu”, aku mengatakannya dengan ketus, Adly pun salah tingkah, kemudian aku memberanikan diri untuk menanyainya,
“Adly, adakah hal lain yang ingin kau katakana kepadaku?”
“mmmm….. ku rasa….ku rasa… tak ada”, katanya gugup aku malihat binar binar kebohongan di matanya. Hatiku menjerit aku benci kepadanya tak inginkah ia memberiku ucapan selamat?
Aku tak kuasa terus berdiri di depan Adly, aku berlari pulang, aku tak peduli ia masih memanggil maggil namaku, aku benci kepadanya.
***

Sejak saat itu aku menjadi agak benci kepadanya namun jujur sisa2 rasa cintaku kepadanya masih terpatri kuat kuat di palung hatiku yang terdalam. Inilah yang membuatku sangat menderita.
Aku berjalan santai menuju ke podium tempat dimana aku harus berpidato (karena aku terpilih sebagai siswi berprestasi tahun ini)kepada seluruh undangan wisuda yang hadir, yah inilah hari terakhir aku menjabat sebagai siswi MAN yang sangat ku banggakan.
Kata demi kata meluncur dari bibirku, di mata orang lain mungkin aku terlihat begitu menghayati isi pidatoku, padahal aku dengan gusar memandang keseluruh pelosok undangan sekedar untuk mencari si pemilik senyum termanis sedunia, namun sayang di sudut manapun aku melihat tak ku temui senyum itu. Padahal aku hanya ingin melihat senyumnya untuk yang terakhir sebelum kukubur semua kenangan kenanganku bersamanya.
Pukul 14.30WIB. acara wisuda pun berakhir, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Aku berjalan gontai melewati koridor koridor, kala mataku menatap sebuah kelas, XI IPA1 tepatnya, anganku melayang layang, aku teringat kepada seorang anak laki laki bertampang menyedihkan yang bersusah payah membongkar tas butunya demi menemukan rupiah rupiahnya yang hilang, itulah Adly, disinilah dulu pertama kali kita berjumpa, sungguh waktu berjalan begitu cepat, jikalau boleh aku memilih, aku ingin pagi itu aku tak pernah bertemu denganya, rasa ini begitu menyiksaku, tampa kusadari bulir bulir air mata mengalir di pipiku, aku pun sesenggukan.
Kemudian aku berlari ke perpustakaan MAN Rengel, di sinilah dulu aku sering diam diam memandangnya saat ia asyik membaca buku, tangisku kembali pecah, aku tak kuasa menahan rasa sesak di dadaku.
“ku kira ada yang butuh tisyu, kau boleh ambil semuanya, gratis khusus untuk gadis secantik kau”, aku kenal sekali dengan suara itu, ia tersenyum kepadaku sambil menyodorkan sebuah tisyu.
“kkkkk ka kau kah itu?”, gumamku di sela sela isak tangisku.
“tepat sekali, tak adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain menangis cengeng? Berkali kali aku memergokimu sedang menangis, bukankah kau tahu sendiri saat kau menagis kau tampak begitu jelek hah?”
“kau…. Kau…. “ aku tak dapat menyelesaikan kata kataku, tangisku justru semakin menjadi jadi.
“oh hanya itukah yang bisa kau berikan untukku, tak tahukah engkau setelah ini aku akan pergi jauh, mungkin 3 tahun lagi kau baru akan bisa melihatku lagi”
aku tersentak mendengarnya, kuberanikan mataku untuk sekedar melihat bola matanya, ia menatapku dengan tatapan yang sangat menyejukkan jiwa, ingin rasanya ku bawa terus tatapann mata bening itu agar aku merasa damai.
“Tsanny tidakkah kau memikirkan bagaimana menderitanya aku nanti saat merindukanmu? Tolong beri aku secuil senyummu, atau kalau tak keberatan berikan kepadaku pula hatimu!”
DUAR……….Sepertinya ada sesuatu yang meledak di dalam hatiku.
“apa kau bilang?”,aku bertanya.
“ku rasa semuanya sudah jelas, kurasa dari dulupun kau tahu aku begitu menyukaimu, jadi…?”
“jadi apa?”, aku pura pura bego menanyakannya
“jadi kembalikan tisyuku, dari pada Cuma kau remas remas begitu!”, Adly Adly itulah yang membuatmu berbeda, batinku.
“oh ya ini, aku ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu, dari dulu malah, eits…. Di buka entar aja kalo di rumah, norak banget sih?”, ucapnya membuatku jengkel bukan main.
“oh ya Tsanny, bonyokku, dah nunggu tuh di depan, tak apa kan ku tinggal 3 tahun? Jangan lupa tunggu aku 3 tahun lagi disini, di tempat ini, maka kau akan ku curi dari orang tuamu, mengerti,,, cengeng?”
aku kembali menagis di buatnya, namun sepercik kebahagiaan talah menerangi relung hatiku yang gelap, aku pasti sanggup menantimu, kasih!.
READ MORE - AKU SANGGUP MENANTIMU

CINTAKU KARENA ALLAH

Aku pandang senja nan merah
Terbenam di ufuk barat lalu terbit dari timur
Sebingkai hati terselubng amarah
Semangat pupus hilang terkubur
Aku menghadap luas cakrawala
Terbentang anganku terbuai impian
Tersadar sejenak terlintas di dada
Masih… dan masih begitu
Perjalanan panjang cinta kita
Aku berlayar jauh tak bertepian
Mengarungi hidup bahtera cinta
Terkadang badai datang menerpa iman
Dan tak jarang kabut mendung,
Hujan gelap menyapa
Tapi hanya padaMU aku bersujud
Tengadahkan tangan, di setiap malam
Tahajud curahkan segala urusan
Ya…. Robby tolonglah aku
Berilah aku kekuatan tuk hadapi cobaan ini
Deraian air mata jatuh tak tertahan
Jangan pisahkan aku dari tali kasihMU
Agar aku bisa mencintainya
Karena aku mencintaiMU ya Robby..
READ MORE - CINTAKU KARENA ALLAH

KUCIPTAKAN NERAKA DI ATAS DUNIA

Ku ucapkan caci maki tuk lepaskan rantai
yang ada otakku
Kalian coba hentikan gerak fikiranku
dengan menumbuhkan kebodohanku
gengaman tanganku melontarkan neraka
di atas dunia
maka semua kebaikan
hanya sebuah dosa tertutupi pahala…!
Ku renungkan setiap dosa-dosa yang ku
Ciptakan
Kebejatan manusia menututupi keindahan dunia . . . !
Akhir dunia yang di huni oleh
Kerusakan akal manusia
Hingga kuciptakan neraka di atas dunia
READ MORE - KUCIPTAKAN NERAKA DI ATAS DUNIA

BERAKAR DOSA

Diriku penuh dengan makian
Bercampur cemooh dan hujatan

Aku penuh..
Aku kutukan..
Aku siksaan..
Aku kecaman..

Hidupku terantai kesombongan
Akulah yang kaya diatas yang miskin
Akulah yang kekal ketika semua mati
Akulah yang penuh kenikmatan ditengah-tengah penderitaan

Tertidur pulas ketika orang-orang sedang
Kelaparan
Tertawa nyaring ketika orang-orang
Menangis kesakitan
Terpingkal-pingkal ketika orang-orang
Terjepit beratnya beban

Nafasku kuhembuskan disetiap penyesatan
Tubuhku berakar dosa yang mengerikan
Penjagal lupa daratan……………
READ MORE - BERAKAR DOSA

BIARLAH WAKTU YANG MENJAWAB

Kucoba rakit beribu bunga
Yang ku ikat dengan pita
Tehempas kesejukan didalamnya
Terasa keindahan menyertainya

Dan terpancar kedamaian akan harumnya . . .
Cinta itu kata cahaya
Yang di tulis dengan cahaya
Diatas lembaran cahaya

Beberapa diantaranya kita
Pernah menulisnya dengan kehitaman tinta
Namun cinta bukan karena hitamnya tinta
Yang menggelapkan mata

Hingga menjadikan buta
Ditempat yang bercahaya . . .
Semua insan pasti merasakan cinta
Beberapa diantara kita

Terpesona olehnya
Hingga tergila-gila
Sadarkah kita

Bahwa cinta itu pemberian yang maha kuasa
Yang telah di tetapkan tempat dan waktunya
Maka tak usahlah kita saling mengejarnya
Biarlah waktu yang menjawabnya . . .
READ MORE - BIARLAH WAKTU YANG MENJAWAB

CINTA PALSU

Ungkapan sesal menjauhi batin
Secuplik rasa iba dengan cepat menghilang
Misau hati . . . terus menghinggapi
Dari tiap-tiap dawai cinta yang kau beri

Relung-relung hati ini hampa tanpa cinta
Jiwa-jiwa ku senyap tanpa rasa sayang
Tiap kali ku coba merajut benang-benang sayang . . .

Yang ada hanya suasana duta
Sebongkah hati tak mampu mengembangkan
Layar kasih yang terkatup dalam kepedihan

Sebuah pengharapan tulus yang padam
Tiap satu harapan seakan sambaran pedang
Ditengah hiruk-pikuk pertempuran
Yang berkebelat tepat mengenai hatiku

Ku biarkan hati ini menikmati
Akan cinta yang tak sejujurnya
Tapi tak dapat aku rasa belaian ketulusan
Yang lepas karena kepalsuan

Kini hanya tinggal aku menyesali
Meskipun . . . tak ada berarti
READ MORE - CINTA PALSU

Ku Temukan Samudra Cinta Dalam Tahajud


Bagaikan jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah kehidupan yang aku alami. Jalan hidup nampak suram. Ku lewati jalan terjal dan berliku. Hatiku yang sakit bagai di sayat sembilu. Dan semua itu tak kan bisa di sembuhkan dalam hitungan waktu. Roda kehidupan tak sesuai harapan, warna dunia terlihat kelam, penuh mengering tanpa asa, kenikmatan hanya impian merajut layer. Menentang badai, gelapnya dunia gelapnya hati, akal sehat tak berpesan Lumpur dosa menjadi jalan. Semua itu membuat aku terperosok dalam jurang kemaksiatan. Dan membuat aku jauh dari sang maha pencipta ALLAH SWT.
“Annisa….!!! Sudah ada adzan subuh ayo bangun, jama’ah sholat subuh sama ayah”
suara ayah memangilku di balik pintu kamar, namun aku tak begitu menghiraukannya. Ku anggap angin lewat masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
“Ya ayah bentar dulu.masih males”
“melakukan sholat kok males, mau jadi apa kamu ??”.
Bentak ayah kepada ku, namun tetap tak aku hiraukan. Aku masih saja bersikap acuh tak acuh kepada ayah
Ku telan seribu penderitaan kehidupan ini. Namun tiada sejuta obat yang bisa membalut perihnya luka ku. Kehidupan ku berubah 180 derajat. Semua itu bermula saat kepergian ibu kembali ke rahmatullah. Aku begitu berat melepas kepergian ibu kepergian ibu. Aku tak bisa kehilangan ibu secepat itu. Ibu yang selalu menyanagi ku. Ibu yang selalu memperhatikan ku. Kini telah tiada, meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Kepergian ibu memberi luka yang amat dalam bagi ku. Aku yang di kenal dengan sosok taat beribadah. Kini aku jauh meninggalkan Allah. Bahkan sholat lima waktu pun aku sering tinggalkan. Aku yang suka pergi mengaji, aktif hadior di pengajian, kini berubah tak mengenal kegiatan-kegiatan religi. Kini aku lbih suka keluar malam, dugem, dan malah menyentuh barang-barang haram ( narkoba). Semua itu terjadi saat hati ku kosong. Merasa tak punya siapa-siapa lagi. Setelah kepergian ibu setelah selang beberapa hari. Pacarku menduakan aku dan selingkuh dengan sahabat ku sendiri. Betapa hancur dan lukanya hati ku. Cowok yang ku krnal dulu penuh perhatian kini menancapkan duri dalam hati ku. Keadaan itu membuat aku drop dan salah jalan.
“ayah…. Aku mau keluar sama temem-temen, mungkin pulangnya agak malam. Sekitar jam dua belasan”
Pamit ku ketus sama ayah.
“apa!!!! Kamu mau kemana Annisa??? Mau jadi apa kamu??? Anak gadis pulang tengah malam”.
“Peduli apa ayah sama aku?? Toh ayah hanya peduli sama pekerjaan ayah sendiri”.
“Annisa… ayah sayang banget sama kamu. Kamu anak ayah satu-satunya. Ayah bekerja siang malam hanya untuk kamu. Semuanya buat kebahagiaanmu Annisa”.
“Cukup ayah!!! Cukup!! Simpan saja sayang ayah. Aku ga butuh semua itu, kalau ayah sayang sama aku, waktu ibu menjelang wafatnya ayah di mana?? Ayah ga ada kan?? Ayah sibuk sama pekerjaan ayah sendiri”.
Air mataku jatuh tak tertahan. Merasakan sakit hati yang tiada terkira. Merasakan hidup betapa pahitnya, walau harta melimpah ruah, tak kan habis tujuh turunan, semua itu tak membuatku bahagia sedikit pun. Aku hanya ingin kasih sayang. Tapi kini ibu telah tiada. Orang yang menyayangiku tak kenal lelah dan mengenal waktu. Tapi kini telah pergi untuk selamanya, tak ada kasih sayang bisa aku rasakan. Karena ayah sibuk dengan pekerjaanya sendiri.
“Annisa…maafkan ayah!!!!”.
“Nggak ada gunanya lagi ayah minta maaf. Toh ibu juga telah tiada”.
“Annisa…ayah janji akan menyayangi mu. Seperi ibu mu memberi kasih sayangnya kepadamu. Ayah janji akan sering menemani mu di rumah”.
“Sudah terlambat ayah!!!”.
Aku menjawab ayah dengan penuh kemarahan. Dan aku pun berlalu pergi meningalkan ayah, malam itu pun aku pergi ke sebuah diskotik untuk menenangkan fikiran aku pun mabuk-mabuk kan. Saat itu aku sungguh tak tahu apa yang aku harus lakukan. Aku berteman sama anak-anak berandalan. Menghisap ganja bukan hal yang aneh lagi bagi ku. Narkoba dan minum-minuman keras sudah menjadi makanan dan teman setia ku. Namun ayah tak tahu atas keberutalan ku. Kalau aku pecandu narkoba. Pas tepat pukul oo.oo aku pulang.
“Bik…bibik…bukakan pintu”.
“Iya non tungu bentar”.
Bibik pun berjalan menuju pintu, namun sepontan ayah melarangnya.
“Nggak usah bik…biar aku yang membukanya”.
Ayah pun segera menghampiri ku, dan membukakan pintu untuk ku.
“Hallo…ayah…tumben ayah di rumah”.
Aku dalam keadaan setengah tidak sadarkan diri menyapa ayah dalam keadaan mabuk.
“Plaaak…plaaak…”.
Ayah menamparku di depan pintu. Namun aku pun tak memperdulikan ayah. Seumur hidup ku baru kali ini ayah menampar ku dan sangat-sangat marah pada ku.
“Ayah…ayo tampar terus ayah…tampar aku. Sampai ayah puas. Rasa sakit tamparan ayah tak seberapa dibanding luka hati ku”.
“Maafkan ayah annisa....ayah melakukan semua ini. Karena ayah sangat sayang sama kamu. Hati ayah sakit annisa…melihat kamu jadi begini. Ayah nggak tahu harus gimana lagi”.
“Apa!!!Hati ayah sakit!!!. Apakah ayah merasakan gimana sakitnya hati annisa. Hidup tanpa kasih sayang. Yang ada di otak ayah hanya uang…uang…dan uang.
Aku pun berlalu pergi meninggalkan ayah. Dan berlari menuju kamar ku. Bibik yang berada di ruang tengah hanya bengong melihat pertengkaran sengit antara aku dan ayah.
Syahdu malam mengisii sepi. Terpana aku menanti. Menanti sebuah kasih yang bersih dan sayang yang tulus. Ibu…aku merindukanya. Sosok yang sempurna di mataku, kini telah tiada. Di saat air mata ini menetes, ada luka di setiap tetesan, di saat hati ini menjerit, ada sakit di setiap jeritanya. Di saat kaki ini melangkah, ada duri yang menghambat langkahnya. Aku yang jauh dari sang pencipta, aku merasa kehampaan tiada ujungnya, aku merasa sendiri, sampai aku menjadi pecandu narkoba. Kini ayah sudah berubah. Ayah bukan ayah yang dulu. Ayah yang jarang di rumah, ayah tak pernah memperdulikan aku. Ayah yang tak mmperhatikan aku. Dan kini ayah benar-benar menepati janjinya. Aya memberikan kasih sayang nya. Walau kasih sayang itu tak sehangat kasih sayang ibu.
“tok…tok…tok… annisa… ayo bangun sayang. Sholat subuh sama ayah.
“ayah…”
Aku hanya bisa menyebut nama ayah dengan keadaan lemas, sedangkan aku sudah tak kuat menahan rasa sakit. Akibat dari narkoba yang telah merasuk ke tubuh ku. Ayah pun mencemaskan aku. Karena tiada jawaban dari aku. Akhirnya ayah masuk ke kamar ku. Dan melihat ku di pojok ruang kamar ku. Aku sudah dalam keadaan lemas dan tak berdaya, keringat bercucuran dan badan menggigil. Akhirnya ayah tau kalau aku adalah seorang pecandu narkoba.
“Annisa!!! Astaghfirullah haladzim…. Kamu krnapa sayang???
“ Sakit ayah…!!!”
“Annisa apa yang terjadi sama kamu..??”
“ Ma…ma…afkan…a…a…a…ku…ayah.”
Ucap ku terbata-bata, dalam keadaan tiada berdaya.
“Ya Allah…anakku…mungkin ini semua adalah salah ayah yang tak pernah memperdulikan mu. Mungkin semua ini teguran Allah pada ayah, agar ayah selalu memperhatikan mu. Dan jadi ayah yang baik untuk mu”.
“Ayah…sakit ayah…sakiiit..annisa gak kuat ayah”.
“Iya anakku…kita kan pergi berobat. Semoga Allah memberikan kesembuhan untukmu.
Sambil membopongku, tanpa banyak kata, ayah membawaku berobat ke panti rehabilitas. Mungkin semua itu lebih baik untuk ku. Apapun di lakukan ayah untuk kesembuhan ku. Tak perduli ayah harus mengeluarkan biaya berapa, ayah sunggguh sangat terpukul melihat keadaan ku, dan ayah sungguh sangata menyesal dengan semua ini. Ayah memohon ampun pada sang kuasa. Mungkin ayah telah gagal jadi imam bagi keluarganya.
Setibanya di panti rehabilitas. Ternyata ada salah satu teman dugemku, dan sama-sama pecandu narkoba. Ternyata sudah tak tertolong lagi nyawanya, melihat semua itu ayah semakin cemas dengan keadaanku. Dalam hati ayah berdo’a.
“Ya Allah ya robbi… sembuhkan dia. Dan maafkan aku ya Allah…aku gagal menjadi ayah yang baik untuknya”.
“Ayah…aku ingin sembuh!!!”
Suaraku tertahan di balik jeruji panti rehabilitas.
“Iya anakku…kamu akan sembuh..maafkan ayah bila harus menempatkan mu di sini. Semua ayah lakukan demi kebaikan mu.
Dengan gontai ayah ayah meniggalkan panti rehabilitas. Hati ayah bagai tertusuk belati tajam, dan menahan rasa sakit yang luar biasa. Ayah sungguh-sungguh sangat menyesal dengan semua ini.
Waktu berdetak dalam hamparan tak bersuara, semakin berlalu detik demi detik, saat pertama aku dip anti rehabilitas waktu berkata taka pa, hanya hati tak rla, yakin dalam kata kan mengantar pada sebuah mahligai, walau jauh waktu menjawab, sabar akan membuka semua. Satu bulan telah berlalu aku menjalani hidup di panti rehabilitas, hari-hari telah aku lalui tanpa ayah dan tanpa siapapun, semakin hari keadaanku semakin membaik. Dan ayah pun sangat bersyukur atas semua itu.
Jam dinding menunjukkan pukul 03.45 aku bangun dari tidurku karena mendengar suara tanpa wujud. Entah suara apa dan suara siapa… tapi yang masih melekat di hatiku. Dan tak bisa aku lupa adalah kata-kata terakhirnya.” LA TAHZAN INALLAHAA MA’ANA” jangan bersedih annisa sesungguhnya Allah bersama kita.
Aku tersentak kaget mendengar semua itu, bukankah itu ayat Al- Qur’an dalam surat attaubah. Aku tersadar akan semua dosa-dosaku, aku yang telah jauh dari Allah, dan telah lama meninggalkannya, kini seakan aku dapat hidayahnya, dan dapat magfiroh darinya, aku menangis sejadi-jadinya, aku sadar. . . .aku telah berbuat salah. Aku merasa kecil di hadapan. Dan aku sungguh tak pantas jadi hambanya. Ya Allah yarobbi. . . . maafkan aku.
Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang, kudengar adzan subuh, aku cermati llafalnya. Sungguh indah asmanya telah terangkai pada kalimat adzan. Bagaikan tubuh ku terguyur air telah kausar. Air mataku jatuh tak tertahan, betapa murkanya Allah padaku melihat aku seperti ini.
Ku langkah kaki. Langkah demi langkah tak terhitung jumlahnya. Tanpa sadar kaki ku mengantarkan ku ke tempat wudhu.
“Annisa . . .kamu mau kemana????’’
Seorang suster panti rehabilitas menghentikan langkah ku
“Susterr tolong Bantu aku . . . aki ingin sholat subuh”’
“Alhamdullilah . . .annisa . . kamu . . !!!!
Suster itu bersyukur atas perubahan ku, dan suster itu sempat bengong melihatku, akhirnya suster itu mengantarkan ku ke mushola untuk menunaikkan sholat subuh.. dalam sujud ku, aku memohon ampunan padanya. Atas semua dosa-dosa yang telah lakukan. Dan memohon petunjuknya, memohon hidayahnya. Dan memohon magfirohnya. Sejenak aku teringat sya’ir yang biasanya di lantunkan abu nawas, air semakin tak bisa mataku semakin tak bisa bendung lagi.
“ILLAHILAS TULIL FIRDAUSI AHLA
WALAL AQWA ALA NARIL JAMIHI”
“FAHABLI TAUBATAU WAGHFIR DZUNUBI
FAINKAGHO FIRUDZANBIL ADZIMI”
“Oh tuhanaku bukanlah ahli surga juga tak mampu menahan siksa neraka”
“ Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu ya illahi terima lah amal tobat ku”
Saat surya tenggelam kelam terlihat warna merah ke emasan terhambar indah di cakrawala, agung nian lukisan mu tuhan dibatas senja,desir angina menerpa pepohonan, bertasbih pada sang pencipta, gema satwa malam mengalunkan tahmidnya, gemercik air di sungai bersenandung dzikir pada tuahn, ya maulana robbana . . tiada tuhan, hanya Allah yang maha satu, maha pencipta maha segalanya, ku bersimpuh sujud di haribaan mu. Aku menyadari betapa kecilnya aku di hadapannya. Tapi kenapa aku selalu bermaksiat kepadanya. Astagfierullah haladzim . . .hatiku beristigfar berkali-kali
Jam dinding menunjukkan pukul 21.00. aku pun bergegas tidur. Setelah menunaikan sholat isya’. Namun entah mengapa mataku sulit trpejam. Ada yang aku rindukan, entah siapa yang aku rindukan. Seakan sang pencipta merindukan kekasihnya, ibu jelas aku sangat merindukannya, mantan cowokku aku sudah melupakannya. Terus siapa??? Aku pun tak tahu, hatiku bertanya, ku mencari jawab atas tanyaku, namun tak sedikitpun aku mendapat jawabannya. Bahasa gelisah dengan curahan rasa paling resah, dalam enerjemahkan pilihan hidup berharapan, menjadi diri sendiri yang bangkit dari kenyataan pahit, pasa setiap kesempatan yang sempit dihadapan tantangan, siapakah mampu menampung keadaan apapun dari kesia-siaan. Buat merenungkan segala aku tak bisa tidur dengan nyenyak, tepat pada pukul 01.00 aku terbangun. Perasaan resah dan gelisah masih menyelimuti ku. Akupun ambil air wudhu untuk melakukan sholat malam. Rasanya lama aku tak pernah mengadu pada sang halig pada sujud malam yang lama aku tinggalkan.
Kala rasa aku terlena membentang kebimbangan dan resah membasah, membayangi semua dengan semua angan, satu tempat aku tuju, dimana engkau tiada terlihat, hanya satu yang aku tau tiada dan tak aku menduanya, hanya satu tempat terlabuh, kepadamu ya Allah . . .aku tempatkan semua, semua rasa yang tercipta di hati ini, ku kiirimkan lewat untaian mutiara-mutiara kalam tasbihmu, dan rasa kepasrahan diriku kepadamu yang satu. Dalam ksujud aku memohon ampunanmu. Aku ingat akan dosa-dosaku aku merasa kecil di hadapanya. Aku hanya makhluk dhaif, penuh khilaf dan salah. Dalam sujud aku bermunajah.
“ Ampunilah aku ya . . . Allah . . .yang selalu bermaksiat kepadamu, tunjukkanlah jalan mu, jalan yang kau ridhoi dan yang kau rahmati, jika sesuatu itu menurut mu baik untukku., maka dekatkan lah pada ku, dan jika sesuatu itu buruk menurutmu, maka jauhkan lah dari segala yang menyesatku dan tempatkan lah ibu ku di surga firdaus mu, jauhkan ibu ku dari siksa api neraka mu, amin . . .amin . . amin
Aku pandang mentari yang bersinar cerah yang terbit dari timur dan terbenam dari barat, sebingkai hati yang terselubung marah, semangat pupus hilang terkubur, aku menghadap luas cakrawala, terbentang angna ku terbuai impiannya. Tersadar sejenak di dada. Begitulah perjalann menerpa iman, dan tak jarang kabut mendung hujan deras menyapa, tapi hanya padamu aku bersujud ya Allah, menengadahkan tangan, di setiap malam tahajud curahkan segala urusannya, ya Allah tolonglah aku, berilah aku kekuatan menghadapi cobaan, deraian air mata jatuh tak tertahan.
Kini terjawab sudah apa yang selalu membuat ku resah dan gelisah berkepanjangan. Ternyata kini aku merindukan kekasih sejati, dialah Allah SWT, yang aku rindukan, kini telah ku temukan cinta ku dalam sujud tahajud ku, Allah hurobby . . . dialah cintaku, tiada yang bisa menyamai kasihnya, takkan pernah padam cintanya, dan tak kan pernah hilang sayangnya. Dan kini aku baru mengerti apa yang pernah diktakan ibu.
“ Anissa sesungguhnya Allah sangatlah dekat sama kita. Bahkan lebih dekat dari urat nadi kita, selama kita tidak pernah jauh dari Allah, Allah takkan jauh dari kita”
Kini aku mengerti apa yang dikatakan sama ibu dulu. Allah kaulah cinta sejatiku, betapa indah dunia ini bila kita bisa mencintai semata-mata karenanya, dan betapa damainya bila kita bisa mengigatnya di kala suka Maupin duka. Aku pun belajar melupakan ibu, mengikhlaskan kepergian ibu, aku sadar semua pasti kembali padanya. Akupun juga telah melupakan mantan cowokku, mungkin Allah akan memberikan pengganti lebih baik dari dia, kini saatnya aku mulai hidup baru dengan ayah, menjalani hidup penuh cinta dan kasihnya, dan selalu mengharapkan ridhonya. Allah Huakbar . . dialah sejatiku dan cinta sejati seluruh umat islam manusia.
Gapai hidup lebih berarti dengan membuat sejuta prestasi dan selalu dekat dengan illahi.

SAY NO TO DRUNGS
READ MORE - Ku Temukan Samudra Cinta Dalam Tahajud

YANG TERAKHIR

Musim berganti dengan indahnya, air mengalir dengan derasnya, dan waktu bergulir dengan cepatnya seiring detak jantungku. Begitu cepat waktu memwa kita ke ujung jurang perpisahan, tanpa terasa akan kita temui kehidupan yang baru yaitu ehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang akan membawa kita menuju kedewasaan, kehidupan yang akan mengajari kita untuk lebih menghargai hidup, dan kehidupan yang akan mengajari kita tentang apa arti kehidupan yang sesungguhnya. Rasanya baru kemaren kita di pertemukan untuk kali pertama di sekolah MAN tercinta ini, masih teringat jelas dalam ingatku, kita malu-malu saat berkenalan. Tapi akhirnya kita di persatukan dalam satu tujuan dan di ikat dengan tali “persahabatan”.
Dan tak terasa waktu berpisah sudah di pelupuk mata, tinggal dua hari lagi pengumuman kelulusan. Semoga saja pertarungan kita dengan soal-soal UN kemaren dapat membuahkan hasil yang memuaskan sehingga kita lulus 100% dengan nilai yang bagus dan kita bisa di terima di perguruan tinggi faforit kita. Amien…..
Pagi ini cuaca sedikit mendung, semendung hatiku yang sedang galau. Tepat pukul 08.00 WIB aku berangkat sekolah, aku tau ini adalah hari minggu tapi aku tetap kesekolah untuk menuruti kata hatiku. Setiba di sekoah aku langsung menyusuri bangunan-bangunan kokoh yang di buat indah oleh tangan manusia itu. Kemudian aku berhenti tepat di ruang kelas XII IPA2 yang letaknya di depan taman sekolah yang tak lain adalah ruang kelasku.
Aku memasuki ruangan yang tertata rapi itu, aku memperhatikan setiap sudut ruang itu, tak ketinggalan aku juga membaca motto yang menempel rapi di dinding “HARI INI LEBIH HARUS LEBIH BAIK DARI PADA HARI KEMARIN”.
Semua kenanganku bersama teman-teman teringat kembali, saat berkumpul dalam kelas, membuat keributan dalam kelas, membuat masalah dengan guru, tidur pada saat jam pelajaran, membuat lelucon-lelucon, mengerjai teman saat berulang tahun, bahkan sampai bertukar bekal yang kita bawa dari rumah. Semua itu ga akan pernah aku lupakan, karena semua itu adalah kenangan terindah yang aku dapatkan dari kalian…
Saat lamunanku di ujung fatamorgana, tiba-tiba “braaaak!!!” terdengar suara benda jatuh dari luar. Cepat-capat aku keluar dari kelas dan menuju ke sumber suara itu.
“Raka…!!!” Aku terkejut melihat cowok berkaos putih yang aku temui di depan kelas.
“Sedang apa kamu di sini?” tanyaku padanya yang sedang merapikan tumpukan buku yang beserakan di lantai.
“Eh Sita…Aku mau ke perpustakaan” jawabnya dingin.
Raka adalah teman sekelasku. Dia adalah sosok cowok yang aku idolakan, selain pintar dia juga jago sepak bola, tubuh gagah dengan wajah yang tampan membuat tak jarang cewek klepek-klepek kepadanya. Mungkin wajahnya tak kalah tampan dengan CRISTIANO RONALDO, pemain sepak bola kebanggaan dunia.
Ada satu hal yang membuat Raka kadang di benci oleh yang lain, yaitu sikap cueknya terhadap orang lain apalagi pada cewek. Tapi pernah suatu ketika aku melihatnya sedang mengajari anak-anak jalanan mambaca dan menulis. Dari situlah aku tau bahwa Raka bukanlah cowok seperti predikat yang di sandangnya itu.
“Woy… bengong lagi!!” bentak Raka membuyarkan lamunanku.
“Ayo ikut aku!!” Ajaknya kepadaku, kemudian aku mengikutunya dari belakang.
Langkahku terhenti di depan pintu perpustakaan, tanpa basa-basi dia langsung memasuki ruangan yang berpenghunikan buku-buku itu.
“Dari mana kau dapatkan kunci perpus itu?” tanyaku padanya untuk mengobati rasa keherananku yang sedari tadi bergelantungan di fikiranku.
Tapi dia hanya diam tanpa sepatah kata pun, dia tetap asyik menata buku-buku yang dia bawa tadi ke rak-rak yang berderet rapi di ruang itu.
“Terus….buat apa buu\ku sebanyak itu..??” tanyaku lagi seperti pak polisi yang sedang mengintrogasi penjahat.
Dia tetap diam tanpa sedikitpun menghiraukan aku. Uuuugggh… rasanya aku ingin banget menonjok mukanya yang sok Ok itu. Karena merasa kesal aku berniat meninggalkan dia, tapi baru sampai di pintu tiba-tiba….
“Mau ngambil jurusan apa ta di kuliah anti??”
Akhirnya mulut seorang Raka terbuka juga, tapi anehnya aku tanya A dia jawab B…capek deeeeeeecch…!!
“InsyaAllah aku mau ngambil jurusan kedokteran” jawabku dengan sedikit males.
“O….dokter..hati-hati dengan profesi itu” ucapnya kemudian duduk di kursi yang berada di tengah ruangan perpustakaan itu. Aku pun ikut duduk bersama dia.
“Kenap??” aku berusaha bertanya.
“Profesi yang akan kamu geluti itu berhubungan dengan nyawa, jadi…. Jangan sekali-kali kamu ceroboh saat bertugas nanti” jelasnya panjang lebar.
Oh my god… itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah aku dengar dari mulut manis seorang Raka.
Dua hari kemudian……
Hari ini aku berangkat ke sekolah dengan perasaan yang bercampur aduk. Karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Setelah sampai di sekolah aku langsung berkumpul dengan teman-temanku, kita langsung menghibur diri untuk menghilangkan rasa takut. Celotehan-celotehan winda sedikit membuat aku merasa tenang. Hingga akhirnya terdengar suara riuh dari teman-teman yang berlarian menuju papan pengumuman.
“Hore…hore… aku lulus….”.
Kata itu terdengar keras di telingaku. Perlahan aku memberanikan diri untuk melihat nama ku yang tertulis di atas kertas putih yang terpampang di papan pengumuman. Rasa penasaran, takut, deg-deg kan yang sedari tadi mengganjal dan membeku di hatiku seketika mencair dan lenyap tersapukan oleh penasaran, lega dan bahagia karena aku di nyatakan “Lulus”.
Air mata pun tak dapat ku bendung lagi, aku mendekap erat sahabat-sahabatku. Ucapan syukur tak henti-hentinya aku ucapkan.
“Alhamdulillah… alhamdulillah…. Alhamdulillah….”
Aku melihat satu persatu teman-temanku yang sedang berlumuran air mata kebahagiaan, aku melihat pancaran sinar bercahaya dari wajah mereka. Tapi, aku tak melihat Raka…. Di mana dia?? Apa yang sedang dia lakukan sekarang??? Mengapa dia tidak marayakan kelulusan kita di sini seperti apa yang aku dan teman-teman lakukan, saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat.
Seribu pertanyaan muncul di benakku ….
Tiba-tiba Aku teringat suatu tempat, cepat-cepat aku menuju tempat itu. Tak meleset, Raka benar-benar ada di tempat itu. Dia sedang berbincang-bincang dengan pak Maman, penjaga perpustakaan. Aku hanya melihat mereka dari kejauhan, tak lama kemudian Raka pergi. Dengan rasa penasaran aku memberanikan diri mendekati pak Maman.
“siang pak” sapaku pada lelaki paru baya itu.
“siang, ada yang bisa bapak Bantu???”
“saya mau nanya pak, kok Raka bisa bawa kunci perpus ya pak?”
“o….nak Raka….Dia sering meminjam buku-buku perpustakaan, bahkan di hari libur sekalipun, makanya bapak menyuruhnya untuk membawa kunci ini.
“bapak percaya sama Raka???”
“Raka itu anak yang baik, dia maminjam buku untuk bacaan anak-anak jalanan, dan kalau pun buku yang dia pinjam ada yang rusak, dia langsung mengantinya dengan yang baru”. Penjelasan pak Maman membuat aku puas. Seketika aku mencari Raka di setiap sudut sekolah, hingga aku menemukanya duduk sendiri di kelas.
“Raka….” Sapa ku dengan ngos-ngosan.
Aku duduk di sampingnya
“Alhamdulillah ya kita bisa lulus semuanya” ucap ku mencairkan suasana.
“Aku sedih Ta….” Kata-kata Raka barusan membuat aku kaget.
“maksud kamu???” tanya ku bingung .
“ya Ta….Aku sedih karena aku akan kehilangan semuanya….termasuk kamu….”
Sumpah….Aku gak percaya seorang Raka bisa berkata seperti itu.
“Sita….” Dia memangil ku dengan nada yang lembut. Aku menatap wajahnya, Aku tak melihat Raka dengan wajah jelek seperti biasa, Aku melihat raut muka sedih yang terpampang di wajahnya…..
“Terimakasih ya untuk semuanya” Ucapannya,kemudian pergi
Aku tidak bisa ngebendung air mataku lagi, satu tetes…dua tetes… air mataku meluncur membasahi pipiku ….
Aku berlari menuju ke teman-teman, di sana aku sadar bahwa ini adalah terakhir kalinya Aku mengenakan seragam putih abu-abu, inia saat terahirku menyandang setatus sebagai seorang pelajar SMA. Dan ini adalah kata-kata terakhirku untuk orang yang ku sayang , karena aku tak tahu apakah kita bisa bertemu lagi ataukah ini terakhirkalinya kita bertemu.
Untuk Guru-guruku tersayang …….
Terima kasih….atas semua pengorbanan yang telah kalian berikan kepada kami…
Terima kasih….atas semua bimbingan yang telah kalian pupuk dalam jiwa kami
Dan maafkanlah kami….yang sering menyakiti perasaan kalian…
Maafkan kami…yang tak pernah mengerti seberapa besar pengorbanan kalian….
Maafkan kami…yang selalu mengeluh dan mengeluh kepada Kalian….
Jasa-jasa kalian takkan pernah kami lupakan….
Kami akan berusaha menjadi yang terbaik untuk setiap waktu seperti apa yang kalian inginkan….
Untuk teman-teman ku….
Terimakasih….kalian udah mau jadi teman aku….tanpa kalian aku gak akan pernah bisa berdiri….tanpa kalian aku hanya seorang Sita yang tak berarti….
Dan maafkan aku….yang sering menyakiti perasaan kalian….yang pernah buat kalian nangis….dan yang selalu menyusahkan kalian….
Tapi satu hal yang pasti…. Kalian adalah sebagian dari hidup ku….tawa kalian adalah tawaku dan derita kalian adalah deritaku….
Dan untuk Raka….
Aku sayang sama kamu….tapi aku tahu kita gak kan pernah bisa bersatu….karena aku sadar aku gak pantas buat kamu….biarlah cinta ku ini aku simpan dalam hati karena aku tahu cinta tak harus memiliki….
Aku yakin kalau kita berjodoh, pasti suatu saat nanti kita akan bakal di pertemukan, kapan pun, di manapun, dan dengan cara apapun….
Aku selaluh ingat kata pepatah….”asam di darat, ikan di laut bertemu dalam belangga” jika sudah jodoh, walaupun berbeda tempat tinggal pasti akan bertemu….
Dan aku yakin itu….

Untuk terakhir kalinya….
Terimakasih untuk semuanya….
READ MORE - YANG TERAKHIR