AKU SANGGUP MENANTIMU


Sebuah bangunan yang gagah menjulang tinggi ke angkasa menyapaku dangan ramah, aku pun membalasnya dengan senyuman kecil. Sungguh pagi ini adalah pagi yang begitu indah, kau tahu kenapa kawan?
Ini adalah pagi pertamaku, dimana aku melangkahkan kakiku ke dunia fantasiku, SMA. Lama ku pandangi gerbang calon sekolahku, disana tertera sebuah nama. Nama yang indah sekaligus menggetarkan jiwaku, “MADRASAH ALIYAH NEGERI RENGEL” itulah nama calon sekolah baruku. Tak sabar rasannya aku ingin menyandang gelar siswi ‘MAN Rengel’. Ah.. betapa indahnya, batinku.
Aku berlari lari kecil menuju ke ruang pendaftaran. Aku tak heran begitu ruang itu kosong tak berpenghuni, maklum kawan ini baru jam setengah tujuh, sementara pendaftaran baru akan dibuka pukul 8 nanti. Aku sengaja datang lebih awal, aku sendiri kurang tahu kenapa hatiku mendesakku agar berangkat pagi.
Kini aku duduk termangu di depan koridor kelas, dan tak henti hentinya aku tersenyum membayangkan betapa indahnya mengenakan seragam putih abu abu.
Dua jam telah berlalu bak semenit bagiku. Pendaftaran telah dibuka, aku pun sukses menjadi siswa pertama yang mendaftar,kemudian menyusul di belakangku seorang anak laki laki jangkung yang bertampang kusut, potongan rambutnya pun awut awutan, sungguh kau jauh dari sesosok pria idamanku Boy!, aku membatin.
Sejenak aku merasa ganjil melihatnya mengobrak abrik tasnya, ia celingkungan mencari cari sesuatu di dalam tasnya, ah melihat tampangnya saja sudah memprihatinkan ditambah lagi melihat adegan seperti ini, sungguh kau pria menyedihkan Boy, aku kembali membatin. Tak seberapa lama kemudian ia menatap ke arahku, bibirnya bergerak gerak melantunkan sebuah kalimat namun tak sedikitpun aku bisa mendengarnya, maklum kawan ia bicara tampa suara. Aku pun jengkel melihatnya, melihat aku kebingungan ia mengulang kata katanya tadi yang telah termakan angin,
“Boleh pinjam bolpoin?”, ia berbicara ke arahku solah olah yang ia ajak bicara adalah orang yang nun jauh di seberang sana, karena bola matanya sama sekali tak menatapku.
Aku enggan menjawabnya, langsung saja kusodorkan bolpoinku kepadanya, begitu selesai, ia serahkan bolpoin itu kepadaku tampa sepatah kata pun.
Lagi lagi aku kesal dibuatnya. Namun sejenak kemudian kekesalanku hilang digantikan rasa heran begitu melihatnya mengulang kejadian barusan, ia kembali mengobrak abrik tas bututnya, bahkan kali ini ia sampai menumpahkan segala sesuatu yang menghuni tasnya, sejenak tampa ku sadari ada decak kagum di hatiku melihat penghuni penghuni tas itu, ada sekitar 5 atau 6 buku setebal Quran di dalamnya, wah wah wah…buku saku pramuka yang setebal krupuk saja aku tak khatam khatam sejak SD. Belum selesai aku terkagum kagum memandang anak laki laki itu, ia kembali menatapku, kali ini dangan tatapan yang lebih dalam, aku pun balas menatapnya, DEG….. ada perasaan ganjil saat aku menatap bola matanya. Aku merasa gugup melihatnya ku alihkan saja pandanganku ke bawah seolah aku mencari uang receh yang terjatuh.
“Boleh pinjam uang?”
“boleh, tentu, berapa memang?”, tiba tiba saja kata kata itu meluncur dengan sendirinya dari bibir mungilku, di sisi lain aku juga merasa jengkel kepada mahluk satu ini, memeng aku siapanya? Pikirku. Tapi toh tetep saja aku merelakan 50.000ku kepaanya, bahkan aku sama sekali tak keberatan kalau uangku tak dikembalikan. Aku juga tak keberatan kalau dia tak mengucapkan terima kasih kepadaku, aku ikhlas se ilkhlas2nya.
Setelah kusodorkan selembar uang 50.000 kepadanya aku buru buru memalingkan wajahku dan bergegas pulang. Selewat 5 langkah aku mendengar teriakan laki laki tadi, aku merasa akulah yang ia panggil karena itu aku menoleh. Aku melihatnya tersenyum, tak kusangka lelaki yang berwajah kusut ini ternyata pemilik senyum termanis sedunia,
“hey aku Adly, dan kau?”, ia berucap, sungguh gaya berkenalan yang menyenangkan bagiku, sambil tersipu aku pun menjawab,
“aku Tsanny”, hanya itu yang bisa ku ucapkan karena sejurus kemudian aku telah berlari menjauh darinya, busssyet aku terjangkit syindrom gugup stadium akhir menghadapi mahluk yang satu ini.
***

Itulah kawan the story of my first love, sejak saat itu sampai sekarang ia telah setia menemani mimpi mimpi malamku, meski hanya bisa mengaguminya dari belakang namun aku cukup puas dengan hanya melihat tiap kali ia tersenyum ke arahku manakala aku melewati kelasnya, aku merasa ia memperlakukanku lebih special dari gadis gadis lain, aku tak tahu apakah hanya aku saja yang GR, atau memang itulah yang sebenarnya terjadi namun jujur aku sungguh bahagia dengan dugaanku yang seperti ini. Entah apa yang membuatku begitu menyukainya, dulu kejadiannya begitu singkat, namun emncintainya ternyata tak sesingkat yang ku kira. Buktinya sampai sekarang saat aku talah menginjak kelas tiga, rasa itu pun tak pernah berubah.
Terkadang aku bosan sekaligus jengkel tak karuan dengan perasaanku ini, kau tahu kenapa kawan? Gara2 aku mencintainya al hasil aku jadi jomblo sejati, bukannya aku tak laku2 sih, n bukannya sombong kawan, selama ini telah ada berlusin lusin lelaki yang mendaftarkan dirinya kepadaku( busssyeeet sombong banget booo’), toh semuanya tak bisa menggantikan posisi Adly di hatiku. Sungguh mahluk ini begitu merepotkanku, kalau saja ia tak pernah ku cintai pasti saat aku pergi ke reuni2 aku tak pernah sendirian, saat liburan sekolah pun pasti aku tak pernah menganggur di rumah, ah… semua gara2 Adly aku jomlo bertahun tahun.
3 Desember, pukul 13.30WIB. Aku bergegas pulang aku tak kuat lagi memandang diriku basah, kotor dan bau busuk telor yang menyengat, maklum kawan saat ini aku ber ulang tahun. Aku berlari secepat aku bisa,
“Tsanny….tunggu…”. ku dengar suara tak asing itu menyapaku, tak lain dan tak bukan itu adalah suara si pemilik senyum termanis sedunia, siapa lagi kalau bukan Adly. Pasti ia ingin mengucapkan ulang tahun kepadaku, hatiku pun berbunga bunga, namun kala aku mencium bau busuk di sekujur tubuhku, nyaliku ciut untuk dekat denganya, kenapa kau tak menemuiku tadi pagi sih Adly?saat aku masih cantik, aku menggerutu dalam hati.
“tsann, tunggu sebentar,” adly merogoh sesuatu di dalam tasnya, ah tak kusangka ia akan memberiku sesuatu, wah ini akan jadi ulang tahun terindah bagiku, aku membatin.
“Tsanny, ini 50.000mu yang dulu, maaf aku baru bisa mengembalikannya”, aku serasa tersengat lebah mendengarnya,
“tapi, Adly bukannya dulu aku sudah bilang tak usah lah kau kembalikan uang itu”, aku mengatakannya dengan ketus, Adly pun salah tingkah, kemudian aku memberanikan diri untuk menanyainya,
“Adly, adakah hal lain yang ingin kau katakana kepadaku?”
“mmmm….. ku rasa….ku rasa… tak ada”, katanya gugup aku malihat binar binar kebohongan di matanya. Hatiku menjerit aku benci kepadanya tak inginkah ia memberiku ucapan selamat?
Aku tak kuasa terus berdiri di depan Adly, aku berlari pulang, aku tak peduli ia masih memanggil maggil namaku, aku benci kepadanya.
***

Sejak saat itu aku menjadi agak benci kepadanya namun jujur sisa2 rasa cintaku kepadanya masih terpatri kuat kuat di palung hatiku yang terdalam. Inilah yang membuatku sangat menderita.
Aku berjalan santai menuju ke podium tempat dimana aku harus berpidato (karena aku terpilih sebagai siswi berprestasi tahun ini)kepada seluruh undangan wisuda yang hadir, yah inilah hari terakhir aku menjabat sebagai siswi MAN yang sangat ku banggakan.
Kata demi kata meluncur dari bibirku, di mata orang lain mungkin aku terlihat begitu menghayati isi pidatoku, padahal aku dengan gusar memandang keseluruh pelosok undangan sekedar untuk mencari si pemilik senyum termanis sedunia, namun sayang di sudut manapun aku melihat tak ku temui senyum itu. Padahal aku hanya ingin melihat senyumnya untuk yang terakhir sebelum kukubur semua kenangan kenanganku bersamanya.
Pukul 14.30WIB. acara wisuda pun berakhir, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Aku berjalan gontai melewati koridor koridor, kala mataku menatap sebuah kelas, XI IPA1 tepatnya, anganku melayang layang, aku teringat kepada seorang anak laki laki bertampang menyedihkan yang bersusah payah membongkar tas butunya demi menemukan rupiah rupiahnya yang hilang, itulah Adly, disinilah dulu pertama kali kita berjumpa, sungguh waktu berjalan begitu cepat, jikalau boleh aku memilih, aku ingin pagi itu aku tak pernah bertemu denganya, rasa ini begitu menyiksaku, tampa kusadari bulir bulir air mata mengalir di pipiku, aku pun sesenggukan.
Kemudian aku berlari ke perpustakaan MAN Rengel, di sinilah dulu aku sering diam diam memandangnya saat ia asyik membaca buku, tangisku kembali pecah, aku tak kuasa menahan rasa sesak di dadaku.
“ku kira ada yang butuh tisyu, kau boleh ambil semuanya, gratis khusus untuk gadis secantik kau”, aku kenal sekali dengan suara itu, ia tersenyum kepadaku sambil menyodorkan sebuah tisyu.
“kkkkk ka kau kah itu?”, gumamku di sela sela isak tangisku.
“tepat sekali, tak adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain menangis cengeng? Berkali kali aku memergokimu sedang menangis, bukankah kau tahu sendiri saat kau menagis kau tampak begitu jelek hah?”
“kau…. Kau…. “ aku tak dapat menyelesaikan kata kataku, tangisku justru semakin menjadi jadi.
“oh hanya itukah yang bisa kau berikan untukku, tak tahukah engkau setelah ini aku akan pergi jauh, mungkin 3 tahun lagi kau baru akan bisa melihatku lagi”
aku tersentak mendengarnya, kuberanikan mataku untuk sekedar melihat bola matanya, ia menatapku dengan tatapan yang sangat menyejukkan jiwa, ingin rasanya ku bawa terus tatapann mata bening itu agar aku merasa damai.
“Tsanny tidakkah kau memikirkan bagaimana menderitanya aku nanti saat merindukanmu? Tolong beri aku secuil senyummu, atau kalau tak keberatan berikan kepadaku pula hatimu!”
DUAR……….Sepertinya ada sesuatu yang meledak di dalam hatiku.
“apa kau bilang?”,aku bertanya.
“ku rasa semuanya sudah jelas, kurasa dari dulupun kau tahu aku begitu menyukaimu, jadi…?”
“jadi apa?”, aku pura pura bego menanyakannya
“jadi kembalikan tisyuku, dari pada Cuma kau remas remas begitu!”, Adly Adly itulah yang membuatmu berbeda, batinku.
“oh ya ini, aku ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu, dari dulu malah, eits…. Di buka entar aja kalo di rumah, norak banget sih?”, ucapnya membuatku jengkel bukan main.
“oh ya Tsanny, bonyokku, dah nunggu tuh di depan, tak apa kan ku tinggal 3 tahun? Jangan lupa tunggu aku 3 tahun lagi disini, di tempat ini, maka kau akan ku curi dari orang tuamu, mengerti,,, cengeng?”
aku kembali menagis di buatnya, namun sepercik kebahagiaan talah menerangi relung hatiku yang gelap, aku pasti sanggup menantimu, kasih!.

0 komentar:

Posting Komentar