ISTIGHFAR CINTA


“ Kenapa engkau masih ingkar akan cintamu, padahal kejujuran air mata, sakit-sakitan adalah menjadi saksi atas cintamu “.( Syekh Muhammmad Al- Bashir, burdah ).
Kemilau cahaya bulan serta bintang- bintang menebar buih-buih kedamaian. Aku mencoba langkahkan kaki, menyusuri malam yang dingin, ku basuh seiras wajah dengan air bening nan suci. Harapkan menjadi insan yang selalu kembali kepada sang Illahi Robby. Uraian kalimat-kalimat suci mengalun di kedua bibir. Derai air mata di setiap sujud, tak pernah putus di hembusan nafas tubuh ku. Hanya harapkan ridlo di setiap Istighfar Cinta yang terbentang. Degup jantung dan hati tak dapat terpisah. Ibarat cinta dengan kehidupan manusia. Menyusup sejuk dalam relung kalbu setiap insan. Tiada manusia hidup tanpa cinta. Karena cinta sejak zaman Adam dan Hawa sudah terbenam di hati manusia.
“ Wah…udah jam 5 nich….” Pikirku dalam hati . hari jumat memang jadwal pelajarannya olahraga, yang di adakan diluar jam efektif, jadi harus berangkat pagi-pagi, selang beberapa menit samapi juga aku di sekolah. Di lapngan sudah ada Pak Dwi yang menunggu dan sepuluh anak yang baru datang berjajar rapi .Seperti biasa yang terakhir datang adalah Eko Widodo dengan pasangan sejatinya Abdul Aziz. Eh…ternyata masih juga ada yang lebih terakhir, siapa lagi kalau bukan Naim sama Imam, maklumlah bengawannya lagi banjir.
Setelah jam pelajaran olahraga selesai, seperti biasa , kami cangkrukan di depan kelas, sambil menunggu Pak Mukhid mengjar. Namun ,ketika diajar Pak Mukhid tak jarang dari kami yang malah main sendiri, bahkan sampai tertidur. Tidak cuma pelajaran Pak Mukhid saja yang sama anak-anak di tinggal tidur. Pelajarannya Pak Gunadi dan Pak Tolik pun tak ketinngalan, bahkan pelajaran matematika yang terkenal sulit , masih sempat- sempatnya Laroib, Zaeni dan Eko CS tertidur. Setiap ada guru yang bertanya kenapa kok tidur , pasti dijawab “ Annaumu Ibadatun “, gaya ala santri keluar dech kalau sudah berurusan dengan yang namanya tidur ( he…he…he…) bukan karena kehabisan dalil atau kekurangan dalil, tapi mungkin yang baru di ajarkan Syeh Dempol, Gus Mufid dan Mbah Naim baru satu dalil saja, jadi yang di ingat-ingat ya cuma “ Annaumu Ibadatun”.
Hari- hari berputar, seiring waktu yang terus berlalu, andai hidup adalah puisi, niscaya takkan cukup terukir dalam lembaran-lembaran putih, rangkaian kepedihan menjelma di antara pekat malam , seiring berlabuhnya waktu di semenanjung kerinduan kepada sang pencipta . Rindu yang membahana dan membakar jiwa mimpi- mimpi membasahi sekujur tubuh yang terhina dan terluka, yang tersakiti dan tak ingin mati. Meski malam ini mengoyak dan hempaskan tubuhku. Hingga kutak mau ada cinta yang semu . seberkas cahaya ayat-ayat cinta menggema, menjdi syifa’ qolbu dan penerang jiwa.
Ketika kuberada pada sof-sof yang lurus , pasrahkan segala diri ini , bersimpuh memohon ampunan tak bisa kuhapus sedihku tak mampu kutepis air mata ku. Ketika kuharus kehilangan orang- orang yang ku cinta. Tak ada sesal yang dalam meski hamparan luka- luka tawar terbenam dalam diriku . sesungguhnya semua dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dalam hati hany bisa ku pasrahkan jawaban atas segala doa ku.
Sakitnya rasa kehilangan bagai bunyi dawai lokananta yang menyimpan perih dibalik suaranya yang merdu . ingin ku membelai kuntuman bunga impian , sebagai pengharum jiwa, kusanjungkan istighfar ditiap gerak langkah tubuhku. Kini warna pelangiku telah berlalau, pudar bersama uraian awan putih yang mengarah diangkasa biru.
Dahulu awalku mengenalnya, terasa beribu keindahan bertaburan disudut pandangku. Memberikan kesejukan dan kedamaian. Namun, kini berbalik membenamkan aku dalam kehancuran, meski senantiasa kusanjungkan namanya ditiap keluh lukaku.
“Eh…..kok bengong aja ?” aku mau Tanya sama kamu, kenapa kok dia kelihatan benci banget sama kamu ?” Tanya Andra.
“Ya…wajarlah Ndra, kan udah dapat yang lebih dari diriku”.
“Nggak punya hati banget za, padahal kamu udah berjuang demi dia, eh…sekarang malah bermesraan dengan cowowk lain”.
“he…he…he…nggak usah kecut gitu mukanya, kita berdoa saja semoga didapatkan kebahagiaan”.
Begitulah cinta yang harus kulenyapkan dari hatiku dan harus aku tukar dengan cinta sejati kepada-Nya. Dengan segenap keinsyafan kunyalakan taubat diwajahku, yang tersungkur diatas sajadah mengubur dosa-dosa yang lebih dahulu terlampaui dengan nafasku duatas gunung-gunung menjadi saksi bisu.
Mentari berbinar terang , memancarkan kemilau cahaya dari dirinnya sendiri dan cinta ibarat matahari. Betapa tinggi imajinasi maknai arti cinta yang terpapar , manusia tak akan temukan apa hakikat arti cinta , karena cinta itu sendirilah yang akan menerangkan arti cinta .
’’ Met pagi Zaky….’’sapa Ulmi , cewek paling crewet di IPS-4.
’’ Pagi juga plet (panggilan gaul ulmi)’’
’’´Kok udah masuk sekolah … ?’’
“ Boring di rumah terus …. Nggak ngumpul sama temen-temen rasanya kangen juga”.
Hari ini hari pertamaku masuk sekolah, karena empat hari aku di rumah sakit nungguin bapak hingga nafas terakhirnya mambelai sejuk dikulitku.
Seperti biasa, tiap waktu istirahat dan jam kosong kami duduk-duduk dipintu kelas, sampai wali kelas kami menegur supaya masuk ke kelas.
“ Sekarang pelajaranya apa? Dan waktunya siapa?” Tanya bu Umi.
“ Kesenian bu, jamnya pak Achmad”, jawab kami serentak.
Selang beberapa menit kemudian terlihat sosok perempuan lewat didepan kami.
“ Eh kemarin dia ke rumah kamu nggak, waktu bapak kamu meninggal?” bisik lara padaku.
“ Nggak tuh…emangnya kenapa?”
“ Iiiihhh jahat banget za….nggak punya perasaan banget !!!”
Kok jahat….? Kan aku bukan siapa-saiapanya dia”.
“ Nggak jaht gimana ….lha wong kamu dapat musibah kok dia nggak mau ke rumah kamu, apa dia nggak ingta saat – saat indah yang dilalui bersama kamu …cie….”
“ Udah ah jadi males aku , kal;u bahas begituan lagi, aku udah cukup menerima semua ini “.
Jalan rerumputan yang aku lewati ikut menangis menahan duka. Dengan banyak dluka akan membuat hidup bijak sana dalam melangkah. Menghisap hamparan hampa diantara taburan bunga melati yang berjajar rapi. Sesampainya di rumah kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
“ Wah….cuapek banget habis les fullday”, aku biasa sendiri pada hari-hariku.
“ Sekian lama aku menunggu kedatangan mu….” Derit handphone disebelah tubuhku. Siapa lagi kalau bukan Alya bangunkan ku untuk sholat tahajud.
Pagi yang cerah ….!!! Senyum terbinar-binar kubingkai dalam wajahku, menatap hari dengan penuh harapan tuk jadi bintang bagi orang-orang yang aku cintai.
“ Cie…semangat banget nich, semalem habis dapt apa?”.
“ Zaharus semangat lho….kalau nggak semangat, mana mungkin kakak bisa kjadi bintang buat kalian…he…he…”.
“ Iza…percaya…semoga apa yang kakak cita-citakan berhasil…”.
“ Za udah aku berangkat dulu zaa….Assalamualaikum”.
“ Waalaikumsalam ….hati-hati di jalan”.
Sekitar 15 menit akhirnya sampai di sekolah,. Sekolah yang terkenal maju (alias mepet dalan) yang diatas gerbang tertulis “ MADRASAH ALIYAH NEGERI RENGEL , jln . Raya beron 728 Rengel”.
“ Assalamualaikum ….” Terdengar suara dari belakangku.
“ Wa’alaikumsalam…eh Alya “.
“ Tumban beranmgkat pagi?”
“ Gimana kabar kamu…udah lam nggak pernah ngobrol “.
“ Kamu sendiri gimana ? “.
“ Aku Alhamdulillah baik…..eh…kangen za sama aku…?”.
“ Iiiiihhhhh….ngapai kangen sama orang yang nggak pernah mandi ….he..he..he…”.ledek Alya ke aku.
“ Kirain kangen sama aku …berarti aku dong yang GR”.
“ Tapi… emang bener kok kalau aku kangen bangetb sama kamu”.
Begitulah setiap aku bertemu dengan Alya, pasti kau diejek nggak pernah mandi. Emang dasarnya aku pernah mandi kok….he…he…he…
Hari ini kelas ramia banget karena ada jam kosong . bukanya malah belajar , tapi malah sibuk-sibuk sendiri . ya…begitulah XII IPS 4 yang terdiri dari bermacam-macam masyarakat multikultural .Ada Laroib CS yang enak tidur, Ulmi CS yang enak-enak ngumpi di depan kelas. Syeh Poleng, Kyai Mufid dan Mbah Naim yang asyik debat syari’at. Ada juga kak Ngartika CS yang sregep belajar. Ditambah lagi genk Unsa CS yang mondar-mandir ( caper) disemua tempat.
Kelas XII IPS 4 terletak di utara lapangan voly, sebelah kiri ruangb OSIS. Mempunyai dua pintu yang salah satunya hamper copot. Dilantai depan bangku kami terdapat salah satu keramik yang pecah, cat-cat yang lusuh turut menghiasi kelas kami berwarna kuning kehitam-hitaman , bukan karena dulunya dicat kuning dicampur hitam , tapi karena sudah lama tidak dicat, ditambah cap sepatu dari berbagai merk yangn nempel didinding . Apabila waktu hujan tiba , kelas kami menjadi gelap karena hanya ada satu lampu yang bisa menyala serta dua kipas angina yang salah satunya tidak lagi dapat berputar . Layaknya sikap sempurna waktu upacara . didinding belakang terdapat motto IPS 4 yang tertuliskan “ Khoirunnas anfaukum linnas” yang diukir dengan kaligrafi arab.
Manakal kabut telah selimuti hamparan mimpiku, diantara jari- jemari yang meluas terbaring lunglai untuk mengukir elegi kehidupan , aa seprcik harapan dalam tahjudku. Mewarnai cinta yang telah lam terpendam , dan cinta menanti diatas segala ketulusan . Akhirnya dapat kuungkap cinta dibalik senja-senja waktu. Yang berlari terengah-engah aku sampai didepan Alya.
“ Aku mencintaimu Alya….” Ungkapku agak gemetar.
“ Zaky…tahukah engakau, jauh sebelum engkau ungkap rasa cintamu padaku, aku telah mencintaimu…namun aku memilih memendam rasa ini sendiri, karena kulihat engkau bahagia bersamanya. Sementara aku hanya bisa mengagumimu lewat diaryku”.
“ Kenapa kamu baru bilang sekarang Alya?”
“ Karena kau tak pernah bertanya Zaky….dan cintaku bukan untuk diumbar seperti mereka-mereka, kepedihan yang kurasa ternyata tak bisa hapuskan cintaku kepadamu”.
Sejenak waktu terdiam, helaian nafas panjang turut mengiringi.
“ Alya kalau dulu kita tak saling diam , mungkin kepedihan dan tetesan airmata , tak akan sedalam ini.
“ Sekarang aku taksendiri lagi…itu yang harus kamu tau, aku sudah belajar untuk mencintai orang lain, tapi aku juga tak bisa melepasmu, karena aku sudah terlalu lam menunggumu, maukah engkau menjadi shephiaku?”
“ Iza… aku mau Alya…”
Meski cinta yang kami dapatkan tak sesempurna cinta yang semestinya, karena kesempurnaan hanya ada dalam imajinasi manusia, yang ku tahu…cinta dalam hati, bukan dalam kata. Dengan tangan begitu gegabah menulis tentang cinta, namun setelah mencapai kata cinta , kata-kata itu pecah dalam desahan hati manusia.
Hanya dalam tahajud ku bisa bemunajat cinta dengan Alya dan melepas kerinduan yang membara , lewat bait-bait tetesan airmata bening dari pipi, lewat malam yang sunyi dan sepi . mengantar hati untuk menyatu dalam cinta dan bahtera illahi.
“ Alhammdulillahirobbil’ alamin….sebentar lagi aku harus meninggalakan bangku Aliyah”, gerutku dalam hati , ditambah iringan lagu ST 12 ,” Inilah saat terakhirku , melihat kamu….jatuh airmataku…..menagis pilu, hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih….sauj jam saja kutelah bisa cintai kamu dihatiku, namun bagiku melupakanmu….butuh waktuku seumur hidup…”
Membawa anganku melayang jauh, saat aku harus dihukum ngaji di depan sekolah, ssat aku harus sujud dilapangan , tak pernah memakai aqtribut lengkap bahkan kaos kaki pun tidak pernah memakai”, sing penting ganteng oke coy…..” tidak Cuma itu saja , yang lebih parah yaitu sering membuat kesel dan marah para Bapak Ibu Guruku.
Hinggga kurajut puisi istighfar cinta dalam saat terakhirku.
ISTIGHFAR CINTA
Lewat istighfar ini aku dendangkan melodi rasa seorang pecinta bersama luka-luka tawar yang membuat diri ini tak berdaya. Astaghfirullah….
Ampuni aku dengan beribukehilafanku
Ampuni aku yang telah melanggar aturan-aturan MU
Ampuni aku atas segala nafsu dan hasratku
Tak dapat bedakan lagi antara cinta dan luka menyatu
Menusuk rindu qalbu
Kini derita telah menyantapku diantara debu-debu kemunafikan ingkar janji yang terpaparkan.
Ingin ku gapai dan raih bintang meski aku tak dapat terbang. Ingin ku raih cinta dalam pekanya dunia yang kelam.

Kini saatnya waktu perpisahan, hanya bingkaian keuangan menyatu dalam hati, sebagai sajak untuk mereih mimpi. Meski aku bisa berucap, meski aku bisa menulis, tak sanggup aku torehkan unatian rasa yang telah tercipta. Mungkin suatu saat nanti kita kan mengerti, betapa berartinya sebuah kedamaian, batapa indahnya kebersamaan. Semua akan terasa bila kita sudah tak bersama. Dan untukmu sahabat, ukir dalam hidupmu narasi-narasi cinta . pandanglah ke depan karean itu dalah kenyataan . janganlah menoleh kebelakang karena itu kenangan. Dan semua itu hanya sepenggal kisah yang turut mewarnai pelangimu, mengertilah bahwa pelangi tak hanya satu warna. Begitu juga kehidupan tak selalu bahgia.
Pagi ini sepi, tak ada kicau burung yang menyapaku, hangatnya sinar mentari tersenyum dibalik rimbun dedaunan, dibalik seragam almamater MAN Rengel ini terdapat tubuh yang berlinang kerisauan . sudah setengah jam aku sampai di sekolah, tapi belum ada bel pelajaran yang berbunyi , dari kejauhan terlihat Alya berjalan menghampiriku.
“ Hai….met pagi, tumben udah berangkat ? biasanya jam 7 baru berangkat, sampai harus disetrap didepan kantor guru…”
He…he…he…maklu, kan saat terakhir, rajin dikit nggak apa-apa kan?”
“ Iza…eh…by the way aku boleh ngomong nggak sama kamu?”
“ boleh …emang mau ngomong apa lho?”
“ Jujur sebernya aku ingin disampingmu…memelukmu, tapi aku tak bisa, semua hanya sebatas anganku za”
“ Tapi …apakah kamu mau menungguku dan meraih cintaku seutuhnya…”
“ Aku akan selalu menunggumu Alya , meski kau takpernah dating menemuiku”.
Hanya iringan airmata Alya yang berlabuh dipipi menebar permata dimataku. Dengan menutup wajah Alya berlari dan berlalu dari sampingku. Aku mengerti kesedihan dalam hati Alya. Hanya sekejap mata aku bisa bersanding dangan Alya.

0 komentar:

Posting Komentar