YANG TERAKHIR

Musim berganti dengan indahnya, air mengalir dengan derasnya, dan waktu bergulir dengan cepatnya seiring detak jantungku. Begitu cepat waktu memwa kita ke ujung jurang perpisahan, tanpa terasa akan kita temui kehidupan yang baru yaitu ehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang akan membawa kita menuju kedewasaan, kehidupan yang akan mengajari kita untuk lebih menghargai hidup, dan kehidupan yang akan mengajari kita tentang apa arti kehidupan yang sesungguhnya. Rasanya baru kemaren kita di pertemukan untuk kali pertama di sekolah MAN tercinta ini, masih teringat jelas dalam ingatku, kita malu-malu saat berkenalan. Tapi akhirnya kita di persatukan dalam satu tujuan dan di ikat dengan tali “persahabatan”.
Dan tak terasa waktu berpisah sudah di pelupuk mata, tinggal dua hari lagi pengumuman kelulusan. Semoga saja pertarungan kita dengan soal-soal UN kemaren dapat membuahkan hasil yang memuaskan sehingga kita lulus 100% dengan nilai yang bagus dan kita bisa di terima di perguruan tinggi faforit kita. Amien…..
Pagi ini cuaca sedikit mendung, semendung hatiku yang sedang galau. Tepat pukul 08.00 WIB aku berangkat sekolah, aku tau ini adalah hari minggu tapi aku tetap kesekolah untuk menuruti kata hatiku. Setiba di sekoah aku langsung menyusuri bangunan-bangunan kokoh yang di buat indah oleh tangan manusia itu. Kemudian aku berhenti tepat di ruang kelas XII IPA2 yang letaknya di depan taman sekolah yang tak lain adalah ruang kelasku.
Aku memasuki ruangan yang tertata rapi itu, aku memperhatikan setiap sudut ruang itu, tak ketinggalan aku juga membaca motto yang menempel rapi di dinding “HARI INI LEBIH HARUS LEBIH BAIK DARI PADA HARI KEMARIN”.
Semua kenanganku bersama teman-teman teringat kembali, saat berkumpul dalam kelas, membuat keributan dalam kelas, membuat masalah dengan guru, tidur pada saat jam pelajaran, membuat lelucon-lelucon, mengerjai teman saat berulang tahun, bahkan sampai bertukar bekal yang kita bawa dari rumah. Semua itu ga akan pernah aku lupakan, karena semua itu adalah kenangan terindah yang aku dapatkan dari kalian…
Saat lamunanku di ujung fatamorgana, tiba-tiba “braaaak!!!” terdengar suara benda jatuh dari luar. Cepat-capat aku keluar dari kelas dan menuju ke sumber suara itu.
“Raka…!!!” Aku terkejut melihat cowok berkaos putih yang aku temui di depan kelas.
“Sedang apa kamu di sini?” tanyaku padanya yang sedang merapikan tumpukan buku yang beserakan di lantai.
“Eh Sita…Aku mau ke perpustakaan” jawabnya dingin.
Raka adalah teman sekelasku. Dia adalah sosok cowok yang aku idolakan, selain pintar dia juga jago sepak bola, tubuh gagah dengan wajah yang tampan membuat tak jarang cewek klepek-klepek kepadanya. Mungkin wajahnya tak kalah tampan dengan CRISTIANO RONALDO, pemain sepak bola kebanggaan dunia.
Ada satu hal yang membuat Raka kadang di benci oleh yang lain, yaitu sikap cueknya terhadap orang lain apalagi pada cewek. Tapi pernah suatu ketika aku melihatnya sedang mengajari anak-anak jalanan mambaca dan menulis. Dari situlah aku tau bahwa Raka bukanlah cowok seperti predikat yang di sandangnya itu.
“Woy… bengong lagi!!” bentak Raka membuyarkan lamunanku.
“Ayo ikut aku!!” Ajaknya kepadaku, kemudian aku mengikutunya dari belakang.
Langkahku terhenti di depan pintu perpustakaan, tanpa basa-basi dia langsung memasuki ruangan yang berpenghunikan buku-buku itu.
“Dari mana kau dapatkan kunci perpus itu?” tanyaku padanya untuk mengobati rasa keherananku yang sedari tadi bergelantungan di fikiranku.
Tapi dia hanya diam tanpa sepatah kata pun, dia tetap asyik menata buku-buku yang dia bawa tadi ke rak-rak yang berderet rapi di ruang itu.
“Terus….buat apa buu\ku sebanyak itu..??” tanyaku lagi seperti pak polisi yang sedang mengintrogasi penjahat.
Dia tetap diam tanpa sedikitpun menghiraukan aku. Uuuugggh… rasanya aku ingin banget menonjok mukanya yang sok Ok itu. Karena merasa kesal aku berniat meninggalkan dia, tapi baru sampai di pintu tiba-tiba….
“Mau ngambil jurusan apa ta di kuliah anti??”
Akhirnya mulut seorang Raka terbuka juga, tapi anehnya aku tanya A dia jawab B…capek deeeeeeecch…!!
“InsyaAllah aku mau ngambil jurusan kedokteran” jawabku dengan sedikit males.
“O….dokter..hati-hati dengan profesi itu” ucapnya kemudian duduk di kursi yang berada di tengah ruangan perpustakaan itu. Aku pun ikut duduk bersama dia.
“Kenap??” aku berusaha bertanya.
“Profesi yang akan kamu geluti itu berhubungan dengan nyawa, jadi…. Jangan sekali-kali kamu ceroboh saat bertugas nanti” jelasnya panjang lebar.
Oh my god… itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah aku dengar dari mulut manis seorang Raka.
Dua hari kemudian……
Hari ini aku berangkat ke sekolah dengan perasaan yang bercampur aduk. Karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Setelah sampai di sekolah aku langsung berkumpul dengan teman-temanku, kita langsung menghibur diri untuk menghilangkan rasa takut. Celotehan-celotehan winda sedikit membuat aku merasa tenang. Hingga akhirnya terdengar suara riuh dari teman-teman yang berlarian menuju papan pengumuman.
“Hore…hore… aku lulus….”.
Kata itu terdengar keras di telingaku. Perlahan aku memberanikan diri untuk melihat nama ku yang tertulis di atas kertas putih yang terpampang di papan pengumuman. Rasa penasaran, takut, deg-deg kan yang sedari tadi mengganjal dan membeku di hatiku seketika mencair dan lenyap tersapukan oleh penasaran, lega dan bahagia karena aku di nyatakan “Lulus”.
Air mata pun tak dapat ku bendung lagi, aku mendekap erat sahabat-sahabatku. Ucapan syukur tak henti-hentinya aku ucapkan.
“Alhamdulillah… alhamdulillah…. Alhamdulillah….”
Aku melihat satu persatu teman-temanku yang sedang berlumuran air mata kebahagiaan, aku melihat pancaran sinar bercahaya dari wajah mereka. Tapi, aku tak melihat Raka…. Di mana dia?? Apa yang sedang dia lakukan sekarang??? Mengapa dia tidak marayakan kelulusan kita di sini seperti apa yang aku dan teman-teman lakukan, saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat.
Seribu pertanyaan muncul di benakku ….
Tiba-tiba Aku teringat suatu tempat, cepat-cepat aku menuju tempat itu. Tak meleset, Raka benar-benar ada di tempat itu. Dia sedang berbincang-bincang dengan pak Maman, penjaga perpustakaan. Aku hanya melihat mereka dari kejauhan, tak lama kemudian Raka pergi. Dengan rasa penasaran aku memberanikan diri mendekati pak Maman.
“siang pak” sapaku pada lelaki paru baya itu.
“siang, ada yang bisa bapak Bantu???”
“saya mau nanya pak, kok Raka bisa bawa kunci perpus ya pak?”
“o….nak Raka….Dia sering meminjam buku-buku perpustakaan, bahkan di hari libur sekalipun, makanya bapak menyuruhnya untuk membawa kunci ini.
“bapak percaya sama Raka???”
“Raka itu anak yang baik, dia maminjam buku untuk bacaan anak-anak jalanan, dan kalau pun buku yang dia pinjam ada yang rusak, dia langsung mengantinya dengan yang baru”. Penjelasan pak Maman membuat aku puas. Seketika aku mencari Raka di setiap sudut sekolah, hingga aku menemukanya duduk sendiri di kelas.
“Raka….” Sapa ku dengan ngos-ngosan.
Aku duduk di sampingnya
“Alhamdulillah ya kita bisa lulus semuanya” ucap ku mencairkan suasana.
“Aku sedih Ta….” Kata-kata Raka barusan membuat aku kaget.
“maksud kamu???” tanya ku bingung .
“ya Ta….Aku sedih karena aku akan kehilangan semuanya….termasuk kamu….”
Sumpah….Aku gak percaya seorang Raka bisa berkata seperti itu.
“Sita….” Dia memangil ku dengan nada yang lembut. Aku menatap wajahnya, Aku tak melihat Raka dengan wajah jelek seperti biasa, Aku melihat raut muka sedih yang terpampang di wajahnya…..
“Terimakasih ya untuk semuanya” Ucapannya,kemudian pergi
Aku tidak bisa ngebendung air mataku lagi, satu tetes…dua tetes… air mataku meluncur membasahi pipiku ….
Aku berlari menuju ke teman-teman, di sana aku sadar bahwa ini adalah terakhir kalinya Aku mengenakan seragam putih abu-abu, inia saat terahirku menyandang setatus sebagai seorang pelajar SMA. Dan ini adalah kata-kata terakhirku untuk orang yang ku sayang , karena aku tak tahu apakah kita bisa bertemu lagi ataukah ini terakhirkalinya kita bertemu.
Untuk Guru-guruku tersayang …….
Terima kasih….atas semua pengorbanan yang telah kalian berikan kepada kami…
Terima kasih….atas semua bimbingan yang telah kalian pupuk dalam jiwa kami
Dan maafkanlah kami….yang sering menyakiti perasaan kalian…
Maafkan kami…yang tak pernah mengerti seberapa besar pengorbanan kalian….
Maafkan kami…yang selalu mengeluh dan mengeluh kepada Kalian….
Jasa-jasa kalian takkan pernah kami lupakan….
Kami akan berusaha menjadi yang terbaik untuk setiap waktu seperti apa yang kalian inginkan….
Untuk teman-teman ku….
Terimakasih….kalian udah mau jadi teman aku….tanpa kalian aku gak akan pernah bisa berdiri….tanpa kalian aku hanya seorang Sita yang tak berarti….
Dan maafkan aku….yang sering menyakiti perasaan kalian….yang pernah buat kalian nangis….dan yang selalu menyusahkan kalian….
Tapi satu hal yang pasti…. Kalian adalah sebagian dari hidup ku….tawa kalian adalah tawaku dan derita kalian adalah deritaku….
Dan untuk Raka….
Aku sayang sama kamu….tapi aku tahu kita gak kan pernah bisa bersatu….karena aku sadar aku gak pantas buat kamu….biarlah cinta ku ini aku simpan dalam hati karena aku tahu cinta tak harus memiliki….
Aku yakin kalau kita berjodoh, pasti suatu saat nanti kita akan bakal di pertemukan, kapan pun, di manapun, dan dengan cara apapun….
Aku selaluh ingat kata pepatah….”asam di darat, ikan di laut bertemu dalam belangga” jika sudah jodoh, walaupun berbeda tempat tinggal pasti akan bertemu….
Dan aku yakin itu….

Untuk terakhir kalinya….
Terimakasih untuk semuanya….

0 komentar:

Posting Komentar